BORNEONEWS, Palangka Raya - Di balik pelaksanaan uji coba UKBI bagi disabilitas rungu yang digelar Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah atau BBPKT, tersimpan kisah inspiratif dari salah satu peserta bernama Ferdi. Ia adalah siswa disabilitas rungu yang mengikuti kegiatan ini dengan semangat luar biasa.
Ferdi mengaku tertantang saat mengerjakan soal-soal UKBI, terutama pada seksi “memirsa” yang membutuhkan konsentrasi tinggi.
Meski harus mengandalkan visual dan bantuan pendamping, ia tetap berusaha memahami setiap instruksi dan soal dengan baik.
“Saya bangga bisa ikut. Ini pengalaman baru yang membuat saya ingin belajar lebih banyak,” ujar Ferdi dalam rilis Balai Bahasa Kalteng pada Sabtu, 11 Oktober 2025.
Ia juga menyebut bahwa seksi “merespon kaidah” cukup sulit karena menguji pemahaman tata bahasa secara mendalam.
Pendamping Ferdi menyebut bahwa anak didiknya memiliki semangat belajar yang tinggi.
“Ferdi selalu ingin tahu dan tidak mudah menyerah. UKBI ini jadi ajang pembuktian bahwa keterbatasan bukan halangan,” katanya.
Kegiatan ini digelar di Hotel Swisbel Palangka Raya. Selain Ferdi, ada sembilan peserta lain yang mengikuti uji coba UKBI versi disabilitas rungu, didampingi oleh fasilitator yang membantu komunikasi non-verbal.
Koordinator kegiatan, Arum, menyatakan bahwa kisah-kisah seperti Ferdi akan menjadi inspirasi dalam pengembangan instrumen UKBI yang lebih inklusif.
“Kami ingin instrumen ini benar-benar mencerminkan kebutuhan dan potensi peserta,” ujarnya.(TESTI PRISCILLA/R)









