BORNEONEWS, Sampit – Anggota Komisi III DPRD Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) Sihol Parningotan Lumban Gaol menyoroti kondisi SDN 1 Tumbang Tilap, Kecamatan Bukit Santuai, yang kerap terendam banjir hingga mengganggu proses belajar mengajar. Ia menegaskan bahwa masalah tersebut perlu segera ditindaklanjuti agar tidak terus berulang setiap tahun.
“Tentu kondisi ini menjadi perhatian kita bersama untuk segera ditindaklanjuti. Minggu depan kami seluruh anggota DPRD Kotim akan melaksanakan reses selama satu minggu penuh, sehingga kami berharap pihak kepala sekolah dapat menyampaikan langsung persoalan ini kepada anggota DPRD dari daerah pemilihan lima,” ujar Gaol, Minggu, 12 Oktober 2025.
Politisi Partai Demokrat itu menjelaskan, usulan dan aspirasi yang disampaikan saat reses akan menjadi dasar penyusunan program prioritas daerah pada tahun anggaran berikutnya.
Selain itu, ia juga meminta pihak sekolah untuk segera mengirimkan surat permohonan resmi ke Komisi III DPRD Kotim, dilengkapi dengan dokumentasi dan foto kondisi sekolah sebagai bahan pertimbangan pemerintah.
“Data dan foto kondisi sekolah sangat penting sebagai dasar kajian bagi pemerintah, untuk langkah jangka pendek atau jangka panjang yang akan diambil nanti berupa relokasi sekolah ke tempat lebih tinggi, atau cukup dengan meninggikan lantai bangunan,” imbuhnya.
Ia juga menyoroti bahwa banjir musiman sudah menjadi persoalan klasik di perkampungan yang berada di sepanjang jalur sungai di Kotim. Sejak dahulu, wilayah tepian sungai dipilih warga sebagai tempat tinggal karena akses transportasi yang terbatas.
Namun kini, dengan meningkatnya konektivitas jalur darat, perlu ada perencanaan tata ruang baru agar fasilitas umum seperti sekolah dibangun di lokasi aman dari banjir.
“Ke depan perlu dipertimbangkan agar semua fasilitas umum di setiap desa, termasuk sekolah, direlokasi ke areal yang lebih tinggi dan bebas banjir,” tegasnya.
Selain itu, Gaol meminta Dinas Pendidikan Kotim untuk segera melakukan inventarisasi menyeluruh terhadap bangunan sekolah yang tidak layak. Menurutnya, jangan sampai kondisi rusak atau rawan bencana baru diketahui setelah viral di media sosial atau diperbincangkan masyarakat.
“Kalau inventarisasi dilakukan secara rutin, maka kita bisa membuat skala prioritas pembangunan yang lebih terencana di masa mendatang,” tandasnya.
Sebelumnya diberitakan, SDN 1 Tumbang Tilap kerap terendam banjir hingga 4–5 kali dalam setahun. Akibatnya, proses belajar sering terganggu dan siswa terpaksa belajar dari rumah. Kepala sekolah, Fitriyani, menyebut banjir terakhir terjadi pada 10–16 September 2025, dengan ketinggian air mencapai selutut hingga sepinggang orang dewasa.
Dengan fasilitas terbatas, sekolah tersebut hanya memiliki tiga ruang kelas dari bangunan kayu dan memanfaatkan rumah guru serta bekas WC bantuan PNPM sebagai ruang belajar tambahan. Kondisi itu semakin diperparah karena lantai cepat lapuk karena banjir melanda. (DEWI PATMALASARI/j)









