BORNEONEWS, Palangka Raya - Final FGD penyusunan Renaksi dan FRL REDD+ Provinsi Sumatera Utara berlangsung intensif di Le Polonia Hotel Medan. Kegiatan ini menjadi langkah strategis dalam penguatan tata kelola hutan berbasis data dan partisipasi.
REDD+ sebagai mekanisme global telah menjadi acuan dalam pengendalian emisi GRK. Sumatera Utara, dengan kekayaan hutan tropisnya, berupaya menyusun strategi lokal yang terukur dan realistis.
Prof. Rahmawaty, yang turut hadir sebagai peserta kegiatan turut menekankan pentingnya keterlibatan akademisi dalam proses ini.
“Kami hadir untuk memastikan bahwa dokumen ini tidak hanya administratif, tetapi juga ilmiah dan berdampak nyata,” kata Prof Rahmawaty dalam rilisnya pada Minggu, 12 Oktober 2025.
Kepala DLHK Sumut, Heri W Marpaung, menyambut baik kontribusi para akademisi. Ia menyebut bahwa masukan dari Prof Rahmawaty dan tim sangat membantu dalam menyusun logframe dan roadmap implementasi.
Diskusi melibatkan 30 peserta dari berbagai instansi, termasuk OPD, UPT Kementerian, dan mitra pembangunan. Yayasan PETAI sebagai fasilitator menekankan bahwa dokumen ini akan menjadi alat advokasi daerah dalam forum nasional dan internasional.
Renaksi dan FRL REDD+ akan memuat strategi mitigasi berbasis potensi lokal. Sumatera Utara diharapkan menjadi pionir dalam pengelolaan hutan berkelanjutan yang inklusif dan berbasis bukti.(TESTI PRISCILLA/R)









