PULANG PISAU –

RELIMA (Relawan Literasi Masyarakat) adalah program dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) yang mengajak masyarakat untuk menjadi relawan dalam gerakan penguatan budaya baca dan peningkatan kecakapan literasi di berbagai komunitas.

Para relawan ini bertugas mendampingi perpustakaan desa/kelurahan, Taman Bacaan Masyarakat (TBM), dan perpustakaan rumah ibadah untuk memfasilitasi kegiatan literasi, membangun jejaring, serta mendorong pemanfaatan koleksi perpustakaan.

Sebagai yang terpilih dari bagian RELIMA ini saya mengambil lokus Kab.Pulang Pisau Provinsi Kalimantan Tengah.  Tentang Pulang Pisau  Sejarah Pulang Pisau mencakup dua aspek: yang pertama adalah sejarah pembentukan Kabupaten Pulang Pisau sebagai sebuah daerah otonom yang diresmikan pada 10 April 2002 melalui Undang-Undang No. 5 Tahun 2002 setelah sebelumnya merupakan wilayah pembantu bupati dari Kabupaten Kapuas. Yang kedua adalah sejarah penamaan daerah tersebut, di mana "Pulang Pisau" berasal dari legenda seorang tokoh Dayak Ngaju yang kehilangan pisau pusakanya di sungai dan berucap "Pulang Pisau" (kembalikan pisau).

Sebelum masuk ke peran strategis perpustakaan sebagai pusat pemeberdayaan Masyarakat saya ingin menyampaikan bahwa Literasi inklusif memiliki peran krusial karena menjamin kesetaraan akses terhadap informasi dan pengetahuan bagi seluruh lapisan masyarakat, tanpa memandang perbedaan.

Berikut ini beberapa alasan utama mengapa literasi inklusif sangat dibutuhkan: Pertama : Memperluas Akses Pendidikan, kedua Menopang Kesetaraan Sosial,ketiga Meningkatkan Kepedulian Sosial, keempat Adalah Mendorong Keterlibatan Masyarakat, kelima Meningkatkan Pemberdayaan Individu, keenam Mendorong Kreativitas dan Kemajuan dan ketujuh Mewujudkan Bangsa yang Maju dan Berbudaya.

Secara umum, literasi inklusif yakni fondasi penting untuk memastikan bahwa tidak ada individu yang tertinggal dalam pembangunan nasional. Dengan memberikan akses literasi yang adil dan merata, kita dapat menciptakan masyarakat yang lebih inklusif, adil, dan berpengetahuan luas.

Berbicara tentang Peran strategis perpustakaan sangat penting untuk menciptakan masyarakat berpengetahuan, meningkatkan literasi, dan menjembatani kesenjangan digital dengan menyediakan akses informasi dan sumber belajar bagi semua kalangan. Perpustakaan juga berperan sebagai pusat informasi, komunitas, dan inovasi, yang mendukung pendidikan, penelitian, pengabdian masyarakat, serta pelestarian budaya dan pengetahuan.

Terkait tulisan ini tentang : "Perpustakaan dan Literasi Inklusif:Langkah Relima Menegakkan Martabat Bangsa"ada baiknya siapa itu Relima adalah Relawan Literasi Masyarakat, yaitu individu yang digagas oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) dan bergerak secara sukarela untuk mendukung pengembangan literasi di masyarakat. 

Semangat kerelawanan mereka meliputi dedikasi waktu, tenaga, dan keahlian untuk mendampingi perpustakaan desa, TBM, dan rumah ibadah, memfasilitasi kegiatan literasi, membangun kemitraan, serta mendorong budaya baca dan kecakapan literasi di seluruh Indonesia demi kemajuan bangsa. 

Dukungan nyata Relima (Relawan Literasi Masyarakat) terhadap perpustakaan dan komunitas adalah dengan melakukan pendampingan dan pemberdayaan langsung, seperti membantu mengoptimalkan pemanfaatan bantuan perpustakaan, mengembangkan program literasi, melakukan edukasi dan sosialisasi budaya baca, serta menjalin kemitraan untuk ekosistem literasi yang berkelanjutan.

Relima juga berperan dalam mengordinasikan gerakan literasi yang ada agar lebih terstruktur dan memberikan kontribusi untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia melalui budaya literasi. 

Salah kegiatan Relima adalah mendampingi kegiatan pelatihan pengrajin anyaman tali miliard selain kedepan menggunakan bahan alami seperti rotan dan purun sampai advoaksi ke pihak perijinan DMPTSP terkait NIB bagi produk anyaman ini.  

Kemudian memprakarsai kegiatan Read aloud atau membacakan nyaring adalah sebuah aktivitas sederhana, di mana seseorang menyisihkan sedikit waktunya untuk membacakan cerita kepada anak secara rutin dan terus menerus dan berdampak membuat anak menjadi biasa mendengar, mau membaca, dah akhirnya gemar membaca. Selain offline juga online untuk kegiatan Raed aloud ini termasuyk juga pelatihan capacity building bagi pengelola perpustakaan desa /kelurahan,tbm dan rumah ibadah.

Penulis: Nopiar Rahman/Relawan Literesi Masyarakat tinggal di Kalteng