BORNEONEWS, Nanga Bulik – Setelah sempat menjadi perhatian publik, kasus pengeroyokan yang melibatkan Kepala Desa (Kades) Tanjung Beringin dan seorang warga bernama Sandi akhirnya menemukan titik terang.
Kedua belah pihak sepakat untuk menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan. Ini pun menjadi babak akhir dari perkara yang sempat viral tersebut.
Kades Tanjung Beringin, Unang, dan Sandi secara resmi berdamai, menandai berakhirnya ketegangan yang sempat mencuat. Kesepakatan ini diumumkan oleh tokoh masyarakat setempat, Ratno, yang bertindak sebagai mediator.
"Dengan penuh rasa syukur, kami umumkan bahwa kedua belah pihak telah sepakat untuk saling memaafkan dan mengakhiri perselisihan ini. Keputusan ini diambil demi menjaga kerukunan dan kedamaian di desa Tanjung Beringin," ujar Ratno.
Ratno juga menegaskan bahwa insiden pengeroyokan tersebut murni akibat kesalahpahaman dan tidak terkait dengan isu tuntutan plasma 20 persen yang tengah diperjuangkan oleh masyarakat desa.
"Kami berharap, dengan adanya perdamaian ini, masyarakat dapat kembali bersatu dan fokus pada pembangunan desa. Kami juga mengimbau kepada semua pihak untuk tidak lagi menyebarluaskan video yang dapat memperkeruh suasana," tambahnya.
Dalam kesempatan terpisah, Unang menyampaikan permohonan maaf kepada Sandi dan seluruh masyarakat Tanjung Beringin atas insiden yang terjadi. Sandi pun menerima permohonan maaf tersebut dengan lapang dada.
Proses perdamaian ini berlangsung di Nanga Bulik pada Minggu malam, 12 Oktober 2025, dihadiri oleh tokoh masyarakat, perwakilan keluarga, dan aparat desa. (NATALIA KRISTIN/j)









