PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan atau BPDP, Eddy Abdurrahman, menegaskan bahwa kelapa sawit merupakan tanaman penghasil minyak nabati paling efisien dalam penggunaan lahan dan air dibandingkan dengan tanaman sejenis lainnya. Hal ini didasarkan pada berbagai studi dan data global yang menunjukkan keunggulan sawit dalam produktivitas dan konservasi sumber daya alam.

Menurut Eddy, sejarah perkembangan tanaman minyak nabati utama dunia seperti kedelai, rapeseed, bunga matahari, dan kelapa sawit menunjukkan bahwa sebagian besar tanaman tersebut berkembang pesat di luar daerah asalnya.

“Kedelai yang berasal dari Tiongkok kini mendominasi Amerika Selatan, sementara rapeseed dari Inggris berkembang di Eropa dan Amerika Utara. Begitu pula bunga matahari dari Amerika Utara yang kini banyak dibudidayakan di Rusia dan Eropa,” kata Eddy pada Selasa, 14 Oktober 2025.

Berbeda dengan tanaman lain, kelapa sawit yang berasal dari Afrika Barat justru mengalami pertumbuhan luar biasa di kawasan tropis Asia Tenggara, khususnya Indonesia dan Malaysia.
“Kondisi iklim dan tanah di Indonesia sangat mendukung pertumbuhan sawit, menjadikannya sebagai salah satu komoditas unggulan nasional,” tambah Eddy.

Data dari USDA (2023) menunjukkan bahwa dari total 236,3 juta hektare lahan tanaman minyak nabati dunia, kelapa sawit hanya menempati 26,9 juta hektare atau sekitar 11 persen. Namun, kontribusinya terhadap produksi minyak nabati global mencapai 44 persen. Sebaliknya, kedelai yang menguasai 60 persen lahan hanya menyumbang 32 persen produksi minyak nabati dunia.

“Efisiensi lahan kelapa sawit sangat tinggi. Untuk menghasilkan satu ton minyak sawit hanya dibutuhkan 0,23 hektare lahan. Bandingkan dengan rapeseed yang butuh 1,45 hektare dan kedelai yang memerlukan 2,22 hektare,” papar Eddy, mengutip laporan FAO tahun 2013.

Hal ini menunjukkan bahwa kelapa sawit jauh lebih hemat lahan dibandingkan tanaman minyak nabati lainnya.

Tak hanya efisien dalam penggunaan lahan, kelapa sawit juga unggul dalam efisiensi air. Eddy menjelaskan bahwa sawit telah beradaptasi dengan iklim kering di daerah asalnya, sehingga memiliki struktur akar serabut yang luas dan dalam.

“Akar ini membentuk biopori alami yang meningkatkan daya serap dan simpan air di dalam tanah,” ujarnya.

Penelitian Gerbens-Leenes et al. (2009) menunjukkan bahwa untuk menghasilkan satu gigajoule (GJ) bioenergi, kelapa sawit hanya membutuhkan 75 m³ air. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan rapeseed (184 m³), kedelai (100 m³), dan bunga matahari (87 m³).

“Ini membuktikan bahwa sawit adalah tanaman penghasil bioenergi yang paling hemat air,” tegas Eddy.

Dengan efisiensi tinggi dalam penggunaan lahan dan air, Eddy menilai bahwa pengembangan perkebunan kelapa sawit dapat menjadi bagian dari solusi pelestarian lingkungan.

“Sawit bukan hanya komoditas strategis, tetapi juga berkontribusi pada konservasi tanah dan air. Ini adalah momentum untuk memperkuat narasi positif tentang sawit Indonesia di kancah global,” pungkasnya. (TESTI PRISCILLA/y)