BORNEONEWS, Palangka Raya - Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan atau BPDP, Eddy Abdurrahman, menegaskan bahwa inklusivitas merupakan fondasi utama dalam mewujudkan keberlanjutan ekonomi.
Menurutnya, inklusivitas ekonomi tidak hanya soal pemerataan akses dan manfaat, tetapi juga tentang menciptakan peluang yang adil bagi seluruh lapisan masyarakat.
“Perkebunan kelapa sawit adalah contoh nyata bagaimana sektor strategis dapat menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi yang inklusif, dari desa hingga kancah global,” kata Eddy pada Selasa, 14 Oktober 2025.
Dalam jurnal PASPI Monitor (2024) bertajuk Manfaat Ekonomi Inklusif Sawit, disebutkan bahwa industri kelapa sawit memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian lokal, nasional, hingga global.
Perkebunan sawit tidak hanya menciptakan pendapatan langsung bagi petani dan pekerja, tetapi juga mendorong tumbuhnya sektor-sektor ekonomi lain di pedesaan, menjadikannya pusat pertumbuhan baru yang dinamis.
Di tingkat lokal, budidaya kelapa sawit terbukti memberikan pendapatan yang lebih tinggi dan stabil dibandingkan komoditas pertanian lainnya.
“Petani sawit memiliki peluang ekonomi yang lebih baik, dan ini berdampak langsung pada kesejahteraan keluarga dan komunitas mereka,” jelas Eddy.
Selain itu, kehadiran perkebunan sawit turut menghidupkan pelaku UMKM dan memperkuat struktur ekonomi desa, dari Aceh hingga Papua.
Studi PASPI (2017) menunjukkan bahwa desa-desa yang sebelumnya tergolong tertinggal kini menjelma menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru berkat keberadaan perkebunan sawit.
Hal ini diperkuat oleh temuan PASPI (2014) dan Hariyanti et.al. (2022) yang mencatat bahwa peningkatan produksi minyak sawit (CPO) berkorelasi positif dengan pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) di daerah sentra sawit.
Kontribusi industri sawit juga sangat terasa di tingkat nasional. Data Input-Output menunjukkan bahwa nilai output industri kelapa sawit melonjak dari Rp54 triliun pada tahun 2000 menjadi Rp1.119 triliun pada 2021.
“Ini bukan hanya soal angka, tapi tentang bagaimana industri ini menopang perekonomian nasional dan menciptakan nilai tambah yang luar biasa,” kata Eddy.
Nilai tambah sektor ini meningkat dari Rp23 triliun menjadi Rp510 triliun dalam periode yang sama.
Tak hanya di dalam negeri, manfaat ekonomi sawit juga dirasakan secara global.
Studi European Economics (2014) mencatat bahwa negara-negara Uni Eropa memperoleh penerimaan pajak hingga €2,6 miliar dari impor dan hilirisasi minyak sawit.
Negara seperti Italia, Spanyol, Jerman, Inggris, dan Prancis menjadi penerima manfaat terbesar dari aktivitas ini, menunjukkan betapa pentingnya sawit dalam rantai pasok global.
Selain pajak, hilirisasi sawit di negara importir turut mendorong pertumbuhan lintas sektor. Studi tahun 2016 mencatat sedikitnya 15 sektor ekonomi yang terdampak positif, mulai dari pangan, tekstil, hingga pendidikan.
“Ini membuktikan bahwa sawit bukan hanya komoditas ekspor, tetapi juga penggerak ekonomi lintas negara,” tambah Eddy.
Menutup pernyataannya, Eddy menekankan pentingnya menjaga keberlanjutan dan inklusivitas dalam pengembangan industri sawit.
“Kita harus terus memastikan bahwa manfaat ekonomi dari sawit dapat dirasakan secara adil, dari petani kecil di desa hingga konsumen global. Inilah esensi dari pembangunan berkelanjutan yang sesungguhnya,” pungkasnya.(TESTI PRISCILLA/R)









