PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Di tengah maraknya budaya ngopi dan menjamurnya kafe-kafe di berbagai kota, Kalimantan Tengah dinilai memiliki peluang besar untuk menjadi produsen kopi dan coklat lokal yang mampu bersaing dan mengurangi ketergantungan terhadap produk impor. Hal ini diungkapkan oleh Rawing Rambang, Sekretaris Eksekutif GAPKI Cabang Kalteng, dalam diskusi bersama pengamat ekonomi perkebunan.

Rawing menjelaskan bahwa kopi di Kalimantan Tengah umumnya tumbuh di daerah-daerah tertentu yang memiliki iklim dan tanah yang cocok. Jika potensi ini dikembangkan dengan serius, maka kebutuhan pasar lokal bisa dipenuhi tanpa harus mendatangkan kopi dari luar daerah atau luar negeri.

“Sekarang kafe ada di mana-mana. Kalau kita bisa produksi sendiri, tentu harga bisa lebih murah dan pedagang tidak perlu lagi bergantung pada pasokan luar. Ini peluang ekonomi yang harus kita tangkap,” ujar Rawing pada Selasa, 14 Oktober 2025.

Pengamat ekonomi bidang perkebunan ini menyoroti potensi kakao di wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) Barito, khususnya di Barito Timur dan Barito Utara. Di sana, terdapat sekitar 2.000 hektare lahan yang cocok untuk pengembangan coklat berkualitas.

“Daerah DAS Barito sangat cocok untuk kakao. Kalau dikelola dengan baik, kita bisa hasilkan coklat lokal yang punya nilai jual tinggi, bahkan bisa ekspor,” ungkap Rawing yang juga Mantan Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Kalteng ini.

Pengembangan kopi dan coklat lokal dinilai tidak hanya akan memperkuat ekonomi daerah, tetapi juga membuka lapangan kerja baru dan memperkuat identitas Kalimantan Tengah sebagai daerah penghasil komoditas unggulan yang berkelanjutan. (TESTI PRISCILLA/j)