BORNEONEWS, Palangka Raya - Kalimantan Tengah memiliki potensi besar dalam komoditas rotan, terutama di wilayah Kabupaten Katingan dan Kotawaringin Timur atau Kotim. Kedua daerah ini dikenal memiliki cadangan rotan yang melimpah, namun hingga kini sebagian besar hasil rotan masih dikirim keluar daerah dalam bentuk bahan baku mentah.
Menurut Pengamat Ekonomi Bidang Perkebunan, Rawing Rambang, pengrajin rotan yang mengolah bahan tersebut justru banyak berasal dari luar Kalimantan, khususnya Pulau Jawa. Akibatnya, nilai tambah dari komoditas rotan belum sepenuhnya dinikmati oleh masyarakat lokal. Padahal, jika pengolahan dilakukan di daerah asal, potensi ekonomi yang dihasilkan bisa jauh lebih besar.
“Selama ini kita hanya kirim raw material. Kalau bisa dikembangkan di daerah, tentu nilai tambahnya akan meningkat. Masyarakat bisa terlibat langsung dalam proses produksi, dan ini akan membuka lapangan kerja baru,” kata Rawing Rambang pada Rabu, 15 Oktober 2025.
Untuk mewujudkan hal tersebut, diperlukan pelatihan dan pendampingan intensif bagi masyarakat, baik dari pemerintah maupun pelaku usaha.
"Penguatan kapasitas lokal menjadi kunci agar rotan tidak hanya menjadi komoditas ekspor mentah, tetapi juga produk jadi yang memiliki daya saing tinggi di pasar nasional maupun internasional," tutur Dosen Universitas Kristen Palangka Raya atau UKPR ini lagi.
Selain itu, dibutuhkan kebijakan yang mendukung keterlibatan investor dalam pengembangan industri rotan di Kalimantan Tengah.
"Pemerintah daerah diharapkan membuka akses seluas-luasnya bagi investasi, dengan menjamin kemudahan perizinan serta penyediaan infrastruktur yang memadai," tuturnya.
Dengan sinergi antara pemerintah, pengusaha, dan masyarakat, Kalimantan Tengah berpeluang besar menjadi pusat industri rotan nasional yang tidak hanya unggul dalam produksi, tetapi juga dalam pemberdayaan ekonomi lokal secara berkelanjutan. (TESTI PRISCILLA/y)









