PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Di tengah riuhnya wacana global tentang krisis iklim dan transisi energi, Kalimantan Tengah melangkah dengan tenang namun pasti. Provinsi yang dikenal dengan hamparan hutan tropis dan lahan gambutnya ini mulai menata ulang arah pembangunan: dari eksploitasi sumber daya menuju konservasi dan inovasi. Dari hutan yang menyerap karbon hingga panel surya yang menerangi desa-desa, Kalimantan Tengah sedang menulis babak baru dalam sejarah ekonomi hijau Indonesia.

Langkah ini bukan sekadar respons terhadap tekanan global, melainkan cerminan dari filosofi lokal yang telah lama hidup: Falsafah Huma Betang. Dalam nilai ini, keberagaman dijaga, alam dihormati, dan hidup berdampingan menjadi prinsip utama. Maka ketika pemerintah daerah, pelaku usaha, dan komunitas muda mulai berbicara tentang energi terbarukan dan pasar karbon, itu bukan sekadar kebijakan—itu adalah kelanjutan dari nilai hidup yang telah lama dipegang.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Kalimantan Tengah, Joni Harta, menyampaikan bahwa transisi energi di Kalteng harus berpihak pada masyarakat.

“Kami tidak ingin energi hijau hanya menjadi proyek besar yang jauh dari rakyat. Kami ingin agar desa-desa bisa menikmati listrik bersih, dan masyarakat lokal bisa terlibat langsung dalam menjaga hutan dan menghasilkan manfaat ekonomi dari sana,” ujar Joni Harta kepada Borneonews pada Rabu, 15 Oktober 2025.

Akselerasi energi hijau di Kalteng dilakukan melalui pemanfaatan Energi Baru Terbarukan atau EBT seperti tenaga surya, biomassa, dan mikrohidro. Elektrifikasi lintas sektor—dari pertanian, perikanan, hingga UMKM—menjadi strategi inklusif untuk meningkatkan kesejahteraan sekaligus menurunkan emisi karbon. Di beberapa desa, panel surya mulai menggantikan genset berbahan bakar fosil. Di sekolah-sekolah, anak-anak belajar tentang energi bersih bukan hanya dari buku, tapi dari kenyataan yang mereka lihat setiap hari.

PLN Energi Primer Indonesia atau PLN EPI dan PLN Nusantara Power atau PLN NP baru-baru ini berkolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Gunung Mas untuk mengembangkan potensi daerah sebagai backbone rantai pasok energi bersih dan meningkatkan ketahanan energi.

Kerja sama tersebut merupakan bagian dari strategi besar PLN dalam mendukung transisi energi Indonesia menuju sumber energi yang lebih bersih dan berkelanjutan, sesuai dengan target Net Zero Emission atau NZE. Penandatanganan nota kesepahaman tersebut memperkuat sinergi antara pemerintah daerah dan BUMN energi dalam mempercepat agenda energi bersih di Indonesia.

Direktur Biomassa PLN EPI, Antonius Aris Sudjatmiko menegaskan bahwa kolaborasi multisektor tersebut sangat penting untuk menciptakan pasokan biomassa yang tidak hanya mendukung keberlanjutan PLTU melalui skema cofiring, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.

“Kami ingin membangun ekosistem biomassa yang inklusif melibatkan masyarakat secara aktif, menghidupkan lahan kritis agar dapat dimanfaatkan secara produktif, dan mendorong sirkularitas ekonomi berbasis limbah pertanian, perkebunan dan kehutanan”, kata Antonius Aris Sudjatmiko, di Jakarta baru-baru ini.

Sementara itu, Direktur Operasi Pembangkit Batubara PLN Nusantara Power, Rachmanoe Indarto menuturkan bahwa PLN NP siap mengakselerasi pemanfaatan energi alternatif pada unit-unit pembangkitnya dengan tetap mengedepankan prinsip keberlanjutan dan ketepatan teknologi.

“Upaya ini sejalan dengan transisi menuju pembangkit rendah emisi dan transformasi hijau PLN Grup", kata Rachmanoe.

Hal senada disampaikan Bupati Gunung Mas, Jaya S Monong yang menegaskan komitmen daerah dalam mendukung transformasi energi hijau yang inklusif. Kolaborasi ini juga mampu mendorong perekonomian warga di Kalteng.

"Transformasi energi ini tak hanya akan meningkatkan pasokan listrik bersih, tetapi juga memperkuat ekonomi warga daerah melalui penciptaan lapangan pekerjaan dan pengembangan usaha berbasis limbah. Kami berharap sinergi ini dapat memberikan manfaat jangka panjang yang besar bagi masyarakat dan keberlanjutan lingkungan di Gunung Mas,” ujarnya.

Kepala Dinas ESDM Kalteng, Vent Christway, mengatakan bahwa pihaknya bersama jajaran telah melakukan pemasangan Alat Penyalur Daya Listrik atau APDAL di sejumlah wilayah yang belum teraliri listrik.

“Kami terus melakukan identifikasi dan percepatan pemasangan APDAL di desa-desa yang belum memiliki akses listrik. Harapannya, semua wilayah di Kalteng bisa segera mendapatkan aliran listrik,” ujarnya.

Vent menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk dukungan terhadap program strategis Pemprov Kalteng dalam meningkatkan pemerataan infrastruktur energi.

"Sebanyak 50 desa telah menerima penyaluran APDAL tahap pertama, termasuk distribusi genset ke daerah tanpa listrik. Tahun ini, program akan diperluas ke 1.521 desa dan kelurahan, serta penyediaan akses internet di 50 titik baru di Palangka Raya dan Katingan," tegasnya.

Namun, kekuatan terbesar Kalteng bukan hanya pada energi terbarukan, tetapi pada hutan dan lahan gambutnya yang menyimpan cadangan karbon luar biasa. Inilah yang menjadi dasar pengembangan pasar karbon di daerah ini. Kredit karbon yang dihasilkan dari konservasi dan restorasi hutan dapat diperdagangkan, memberikan insentif finansial bagi masyarakat dan pemerintah daerah.

Kepala OJK Kalimantan Tengah, Primandanu Febriyan Aziz, menekankan pentingnya literasi keuangan berkelanjutan agar pelaku usaha lokal siap terlibat dalam ekosistem pasar karbon.

“Kami tidak ingin masyarakat hanya menjadi penonton. Mereka harus menjadi pelaku aktif, memahami nilai ekonomi dari pengurangan emisi, dan mampu mengelola proyek karbon secara mandiri,” katanya.

Sementara itu, Kepala Bursa Efek Indonesia (BEI) Kalteng, Stephanus Cahyo Adiraja, menyebut bursa karbon sebagai jalan baru menuju ekonomi hijau. Dirinya menyampaikan bahwa pasar karbon membuka peluang investasi yang tidak hanya menguntungkan secara finansial, tetapi juga berdampak positif bagi lingkungan dan generasi mendatang.

Di balik semua ini, ada gerakan sosial yang mulai tumbuh. Pemuda lintas iman, komunitas adat, dan organisasi masyarakat sipil mulai terlibat dalam edukasi publik, advokasi kebijakan, dan pengawasan proyek karbon. Mereka menyusun materi edukatif, menggelar diskusi terbuka, dan mendorong transparansi dalam pengelolaan sumber daya alam.

Salah satunya, Pemuda Katolik Komda Kalimantan Tengah yang telah berkolaborasi dengan Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Kalteng terkait pengawasan proyek karbon ini.

"Kita sudah berdiskusi dengan Pak Joni selaku Kepala DLH Kalteng dan kita akan dilibatkan dalam proyek ini. Karena sebagai anak muda dan berasal dari berbagai daerah di Kalteng, Pemuda Katolik punya jaringan luas kepada masayarakat di seluruh daerah di Kalteng melalui anggota kita," ucap Ketua Pemuda Katolik Komda Kalteng, Dorothea S Jasi.

Kemitraan tersebut diharapkan dapat menjadikan Pemuda Katolik sebagai salah satu lembaga perantara DLH kepada masyarakat, membantu menyampaikan informasi serta menggerakkan partisipasi publik dalam program pelestarian lingkungan. Keterlibatan generasi muda dianggap strategis karena mampu menjangkau lapisan masyarakat yang lebih luas.

Di sisi lain, dunia usaha juga tak mau ketinggalan. PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk atau SSMS, salah satu perusahaan yang bergerak di bidang perkebunan kelapa sawit di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah juga membuktikan keseriusannya dalam mendukung energi terbarukan. Departemen Head Sustainability SSMS, Andri Najiburrahman menjelaskan bahwa pengelolaan limbah sawit yang ramah lingkungan dilakukan secara serius di perusahaan ini. Di kebun sawit SSMS, limbah diolah menjadi pupuk organik dan sumber energi alternatif di Biogas dan Bio-CNG, sehingga mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan.

"Keunggulan SSMS dalam penerapan prinsip zero waste dan energi terbarukan, seperti penggunaan biomassa dan pembangunan pembangkit listrik berbasis energi terbarukan, menjadikan kebun SSMS sebagai laboratorium hidup untuk memahami inovasi keberlanjutan dalam industri sawit," jelas Andri.

Dengan segala paparan ini, Kalimantan Tengah sedang membuktikan bahwa keberlanjutan bukan hanya soal teknologi, tetapi soal nilai, kolaborasi, dan keberpihakan. Dari hutan yang dijaga dengan hati hingga panel surya yang dipasang dengan harapan, provinsi ini sedang menata masa depan yang bersih, adil, dan berakar pada kearifan lokal. (TESTI PRISCILLA/j)