PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya – Kepala OJK Provinsi Kalimantan Tengah Primandanu Febriyan Aziz menyebutkan bahwa tingkat literasi dan inklusi pasar modal di Indonesia masih tergolong rendah.

Ia menyampaikan hal itu dalam sambutan Puncak Bulan Inklusi Keuangan (BIK) 2025 yang diselenggarakan di Aula Rahan Universitas Palangka Raya.

“Berdasarkan survei nasional, tingkat literasi keuangan di Indonesia telah mencapai 66 persen dan inklusi keuangan sebesar 80 persen. Namun, sektor pasar modal masih relatif rendah, dengan tingkat literasi sekitar 17 persen dan inklusi hanya 2 persen,” ujar Primandanu dalam keterangannya seperti dikutip Borneonews pada Kamis, 16 Oktober 2025.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi tantangan untuk meningkatkan pemahaman dan partisipasi masyarakat di sektor pasar modal.

“OJK tidak hanya berperan sebagai regulator, tetapi juga sebagai mitra pemerintah daerah dalam memperkuat literasi dan inklusi keuangan,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa penguatan literasi keuangan harus dimulai dari generasi muda agar mampu berinvestasi secara bijak di tempat yang legal dan aman. (HERMAWAN DP/R)