BORNEONEWS, Tamiang Layang – Dalam beberapa hari terakhir, warga Kabupaten Barito Timur merasakan suhu udara yang begitu menyengat.
Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa fenomena tersebut merupakan kondisi alamiah yang biasa terjadi setiap tahun pada masa peralihan dari musim kemarau ke musim hujan atau pancaroba.
Kepala Stasiun Meteorologi Sanggu, Eko Bambang Minarto, menjelaskan bahwa peningkatan suhu udara di wilayah Kalimantan Tengah, termasuk Barito Timur, dipicu oleh beberapa faktor, terutama posisi semu matahari yang saat ini berada di sekitar garis khatulistiwa serta minimnya tutupan awan.
“Bulan September hingga November merupakan masa peralihan dari musim kemarau ke musim hujan. Pada periode ini, posisi semu matahari bergerak dari utara ke selatan, sehingga radiasi sinar matahari lebih intens menyentuh permukaan bumi. Inilah yang menyebabkan suhu udara terasa lebih panas, khususnya pada siang hari,” ujar Eko, Kamis, 16 Oktober 2025.
Menurutnya, meskipun sebagian wilayah Kalimantan Tengah sudah mulai diguyur hujan, pembentukan awan hujan masih belum maksimal. Akibatnya, panas matahari langsung menembus tanpa penghalang, membuat suhu di permukaan bumi meningkat signifikan.
“Kondisi ini diperkirakan akan bertahan hingga akhir Oktober atau awal November, sebelum curah hujan mulai meningkat secara merata,” jelasnya.
Eko menambahkan, pengaruh monsun Australia juga turut memperkuat cuaca panas. Angin muson tersebut membawa massa udara kering dan hangat ke wilayah Indonesia, termasuk Kalimantan. Udara kering itu menghambat pembentukan awan dan membuat radiasi matahari semakin kuat.
“Akibatnya, wilayah Kalimantan, termasuk Barito Timur, menerima penyinaran matahari lebih intens dibandingkan biasanya,” tuturnya.
BMKG pun mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap dampak kesehatan akibat suhu panas ekstrem.
“Hindari paparan langsung sinar matahari terlalu lama, gunakan topi, payung atau tabir surya saat beraktivitas di luar ruangan. Perbanyak minum air putih dan kurangi kegiatan fisik berat, terutama bagi anak-anak dan lansia,” pesan Eko.
Selain itu, masyarakat diminta rutin memantau perkembangan cuaca melalui kanal resmi BMKG agar dapat mengantisipasi perubahan kondisi secara tepat.
“Tetap waspada terhadap penyakit akibat perubahan cuaca seperti batuk, pilek, dan infeksi saluran pernapasan. Jaga kesehatan dan tetap bijak dalam beraktivitas di luar rumah,” pungkasnya. (AGUSTINUS BOLE MALO/R)









