BORNEONEWS, Kuala Kapuas - Dua unit rumah berkonstruksi kayu di Gg. Damai, RT. 06, Pujon, Kapuas Tengah dilalap si jago merah pada Jumat, 17 Oktober 2025. Insiden kebakaran ini dilaporkan terjadi sekitar pukul 06.45 WIB dan api baru berhasil dipadamkan setelah hampir empat jam.
Kebakaran yang menghanguskan dua bangunan tersebut menyebabkan kerugian material yang signifikan, mengingat sebagian besar kedua rumah tersebut hangus terbakar. Beruntung, dalam musibah ini tidak ada korban jiwa yang dilaporkan, karena kedua rumah sedang dalam keadaan kosong ditinggal penghuninya saat kejadian.
Menurut keterangan dari Roziq, salah satu petugas pemadam kebakaran (Damkar) setempat, salah satu rumah yang terbakar berfungsi sebagai toko obat, dan rumah lainnya juga berfungsi ganda sebagai warung makan. Struktur bangunan yang sebagian besar terbuat dari kayu membuat api cepat membesar dan menjalar.
Proses pemadaman api menemui beberapa kendala serius yang menyebabkan upaya penjinakan api memakan waktu cukup lama. Petugas Damkar mengalami kesulitan karena kurangnya sumber air di lokasi kejadian, ditambah dengan keterbatasan armada yang tersedia untuk menanggulangi kebakaran tersebut.
"Proses pemadaman ditangani pihak damkar dibantu warga sekitar, namun terkendala armada dan sumber air, sehingga cukup memakan waktu," ungkap Roziq membenarkan hambatan yang dialami timnya. Api baru diinformasikan padam sepenuhnya sekitar pukul 10.00 WIB, setelah perjuangan panjang tim Damkar dan bantuan warga setempat.
Meskipun sumber pasti api masih dalam penyelidikan, informasi sementara dari lokasi kejadian mengindikasikan bahwa korsleting listrik dari AC (Air Conditioner) diduga menjadi pemicu awal timbulnya api yang cepat membesar dan merambat.
Di tengah kepanikan dan upaya pemadaman, satu hal yang menarik perhatian adalah proses evakuasi beberapa mobil yang berada di rumah yang terbakar. Mobil-mobil tersebut terkunci sehingga warga sekitar terpaksa harus bergotong royong dan mengangkatnya secara manual untuk menjauhkannya dari jilatan api.
Musibah ini menjadi pengingat penting akan perlunya kesiapsiagaan dan peningkatan fasilitas penanggulangan bencana di wilayah tersebut, khususnya terkait ketersediaan sumber air dan armada Damkar, guna meminimalisasi dampak kerugian akibat kebakaran di masa mendatang. (SABRIANOOR/j)









