PULANG PISAU –

BORNEONEWS, Pulang Pisau – Menyusul viralnya kabar dugaan pengoplosan beras SPHP di Desa Mulyasari, Pangkoh 2B, Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Pulang Pisau langsung turun ke lapangan untuk melakukan pengecekan kebenaran informasi tersebut.

Kepala Bidang Distribusi dan Cadangan Pangan Dinas Ketahanan Pangan Pulang Pisau, Rony Eka Candra, menyampaikan bahwa tim dari bidangnya turun ke lokasi pada Kamis, 16 Oktober 2025. Namun saat itu, penggilingan padi yang dimaksud dalam keadaan tutup sehingga pihaknya belum memperoleh informasi secara jelas.

“Tim kemudian mendatangi Kepala Desa Mulyasari untuk menanyakan kebenaran informasi tersebut. Dari pengakuan kepala desa, ia tidak mengetahui adanya aktivitas dugaan pengoplosan beras. Hanya ada informasi bahwa masyarakat sempat meminta untuk membersihkan ulang beras SPHP agar layak dikonsumsi sendiri,” ujar Rony saat ditemui di kantornya, Jumat, 17 Oktober 2025.

Rony menegaskan bahwa Dinas Ketahanan Pangan turun ke lapangan untuk memastikan bahwa penggilingan padi tersebut tidak memiliki kerja sama dengan pihak dinas.

“Dinas memastikan tidak pernah memberikan bantuan apa pun kepada penggilingan itu. Kami juga tidak memiliki data pemiliknya karena dalam database kami hanya tercatat lumbung pangan masyarakat yang memang dibina oleh dinas,” jelasnya.

Ia juga menambahkan, dari hasil penelusuran sementara, dugaan pengoplosan beras di Mulyasari tidak dilakukan untuk tujuan perdagangan, melainkan untuk konsumsi pribadi.

Meski demikian, Rony tetap mengimbau agar pelaku usaha di bidang penggilingan padi dan perberasan tidak melakukan praktik pengoplosan dalam bentuk apa pun.

“Hal ini penting agar konsumen tidak merasa dirugikan dan kualitas beras yang beredar di masyarakat tetap terjaga,” pungkasnya.

Sementara itu, Kiswo, pemilik penggilingan padi di Desa Mulyasari yang penggilingannya ada beras SPHP membantah dirinya  melakukan pengoplosan beras untuk tujuan diperjualbelikan. Ia mengaku beras SPHP yang ada di penggilingan padi miliknya hanya untuk konsumsi pribadi.

“Adanya beras SPHP di penggilingan saya itu milik masyarakat yang meminta digiling ulang dan dicampur dengan beras lokal untuk dikonsumsi sendiri. Sebab warna beras SPHP kurang bagus dan kalau dimasak hasilnya agak keras,” jelas Kiswo saat ditemui borneonews.co.id, Jumat, 17 Oktober 2025.

Ia menambahkan beras SPHP yang ditemukan di tempat penggilingannya sebagian juga milik para pekerja yang ingin menggiling ulang agar rasa dan tampilannya lebih baik.

“Tidak mungkin saya mengoplos beras untuk dijual. Kalau untuk dikonsumsi sendiri, iya,” tegasnya.

Sebelumnya, suami istri, yakni Lilik dan Misqun datang ke pabrik penggilingan padi milik Kiswo, Sabtu 11 Oktober 2025 sekitar pukul 10.22 WIB.

Saat itu  Lilik berniat membeli beras untuk dibawa ke Palangka Raya. Selama ini Misqun rutin mudik ke trans, karena di sana masih banyak keluarganya.

Saat di pabrik penggilingan, Lilik sempat mengabadikan proses produksi. Dalam video terlihat jika di pabrik penggilingan terlihat kemasan beras SPHP dan beras lokal.

"Saya melihat sendiri. Beras yang karung besar (lokal) dimasukan ke penggilingan, lalu dicampur dengan beras SPHP," ucap Lilik kepada Borneonews.co.id, Selasa 14 Oktober 2025. (*/j)