BORNEONEWS, Kuala Kapuas - Huma Hai Mandomai merupakan sebuah bangunan cagar budaya yang terletak di Kecamatan Kapuas Barat, Kabupaten Kapuas, Provinsi Kalimantan Tengah, Indonesia. Rumah adat ini menjadi simbol penting yang melambangkan kearifan lokal serta perjalanan sejarah masyarakat Dayak.
Dibangun dengan teknik tradisional khas suku Dayak Ngaju, rumah ini merepresentasikan identitas budaya yang kuat, menjadikannya tidak hanya sekadar bangunan fisik tetapi juga warisan leluhur yang harus dilestarikan secara turun-temurun.
Informasi dihimpun, rumah ini didirikan pada tahun 1907 oleh Bapak Loendjoe di Desa Saka Tampak, Kelurahan Mandomai, Kecamatan Kapuas Barat, Kabupaten Kapuas. Lokasinya berada di tepi Sungai Kapuas. Secara struktural, Huma Hai Mandomai dibangun menggunakan kayu ulin, jenis kayu yang terkenal memiliki ketahanan tinggi terhadap cuaca dan serangan hama, menjamin kekokohan dan keawetan bangunan.
"Uniknya, rumah ini dibangun tanpa paku, melainkan menggunakan pasak yang terbuat dari kayu. Untuk pintu, engsel diganti dengan penopang dari kayu ulin," ungkap Santi, warga setempat, Minggu, 19 Oktober 2025.
Arsitektur Huma Hai Mandomai memiliki keunikan yang khas. Dibangun dalam bentuk rumah panggung dengan atap tinggi, desain ini disesuaikan secara khusus dengan kondisi iklim tropis Kalimantan. Rumah ini terdiri dari ruang tamu, ruang keluarga, dan dapur. Bangunan yang besar ini memungkinkan Bapak Loendjoe untuk mengajak sanak-saudaranya tinggal bersama.
"Mereka semua tinggal di ruang tengah yang cukup lebar, hanya dibatasi oleh kelambu untuk masing-masing keluarga," tambah Santi.
Selain berfungsi sebagai tempat tinggal, Huma Hai Mandomai juga berperan sebagai pusat kegiatan adat dan sosial bagi masyarakat sekitar. Setiap bagian rumah memiliki fungsi tersendiri, mencerminkan hubungan filosofis yang mendalam antara manusia, alam, dan leluhur menurut pandangan budaya Dayak. Nilai filosofis yang terkandung dalam rumah ini merepresentasikan semangat kebersamaan dan harmoni dalam kehidupan masyarakat Dayak.
Keunikan arsitektur tradisional dan nilai historis Huma Hai Mandomai menjadikannya objek yang menarik bagi wisatawan yang ingin mempelajari lebih jauh tentang tradisi masyarakat Dayak. Statusnya sebagai cagar budaya semakin memperkuat potensinya sebagai destinasi wisata budaya. Pengelolaan yang baik diyakini tidak hanya akan menjadikannya kebanggaan lokal, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar melalui sektor pariwisata.
Pemerintah daerah dan komunitas budaya setempat terus berupaya aktif untuk melestarikan Huma Hai Mandomai. Berbagai program pelestarian telah dijalankan, termasuk perawatan rutin bangunan, penyelenggaraan acara budaya, dan edukasi bagi generasi muda tentang pentingnya menjaga warisan leluhur.
Secara keseluruhan, Huma Hai Mandomai adalah manifestasi nyata dari kekayaan budaya dan kearifan lokal masyarakat Dayak di Kalimantan Tengah. Bangunan ini tidak hanya menyimpan jejak sejarah lebih dari satu abad, tetapi juga menjadi pusat pelestarian tradisi, menjembatani masa lalu, masa kini, dan masa depan warisan budaya suku Dayak Ngaju. (SABRIANOOR/H)









