BORNEONEWS, Palangka Raya - Sebagai bagian dari upaya pelestarian lingkungan dan perlindungan habitat Harimau Sumatera, Tim Peneliti dari Program Studi S2-S3 Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan atau PSL Universitas Sumatera Utara atau USU melaksanakan kegiatan penanaman pohon produktif di kawasan hutan sektor Ranto Sialang, Kabupaten Aceh Selatan.
Kegiatan ini merupakan rangkaian dari orientasi lapangan pendahuluan dalam kajian ekosistem dan tutupan lahan hutan yang tengah dilakukan oleh tim peneliti PSL USU. Tim terdiri dari Prof. Rahmawaty, PhD.; Prof. Dr. Abdul Rauf; Prof. Dr. Hamdani Harahap; serta mahasiswa S3 PSL USU, Irwandi. Mereka didampingi oleh pimpinan dan staf Kesatuan Pengelolaan Hutan atau KPH Wilayah IX Aceh.
Penanaman pohon produktif ini bertujuan sebagai penyedia sumber pakan alami bagi satwa liar, khususnya Harimau Sumatera dan mangsanya, yang mendiami kawasan hutan di wilayah KPH IX dan Taman Nasional Gunung Leuser atau TNGL. Jenis pohon yang ditanam dipilih berdasarkan potensi menghasilkan buah dan dedaunan yang menjadi makanan satwa, sekaligus mendukung pemulihan ekosistem hutan.
Kawasan yang menjadi lokasi kegiatan meliputi empat kabupaten, yakni Aceh Selatan, Aceh Barat Daya, Subulussalam, dan Aceh Singkil. Wilayah ini dikenal sebagai habitat penting bagi Harimau Sumatera yang kini semakin terancam akibat degradasi hutan dan konflik manusia-satwa. Oleh karena itu, kegiatan ini menjadi langkah konkret dalam mendukung konservasi berbasis ilmiah dan kolaboratif.
Menurut Prof Rahmawaty, pendekatan yang menggabungkan riset akademik dan aksi nyata di lapangan sangat penting untuk menjawab tantangan konservasi saat ini.
“Penanaman pohon produktif ini bukan hanya soal penghijauan, tetapi juga menciptakan keseimbangan antara kebutuhan ekologi dan keberlangsungan hidup satwa liar,” ujarnya kepada Borneonews pada Minggu, 18 Oktober 2025.
Kegiatan ini juga menjadi simbol sinergi antara dunia akademik dan pengelola sumber daya alam di tingkat tapak.
“Ke depan, hasil kajian dan aksi lapangan ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam merumuskan kebijakan pengelolaan hutan yang lebih adaptif, serta memperkuat komitmen bersama dalam menjaga kelestarian ekosistem hutan Sumatera yang menjadi rumah terakhir bagi Harimau Sumatera,“ tuturnya. (TESTI PRISCILLA/H)









