BORNEONEWS, Palangka Raya - Di tengah hiruk-pikuk Car Free Day Palangka Raya, ada satu sudut yang selalu menarik perhatian: stan Komunitas Aliansi Pecinta Satwa atau Alpesat. Yonda, salah satu anggota aktif, hadir setiap minggu membawa koleksi reptil dan hewan eksotik milik komunitasnya. Kegiatan ini menjadi sarana edukasi yang unik dan interaktif bagi warga kota.
Ular piton, iguana hijau, dan kura-kura sulcata adalah beberapa hewan yang rutin dibawa. Tak hanya reptil, Yonda juga memperkenalkan kelinci, marmut, dan sugar glider sebagai bagian dari kampanye cinta satwa. Semua hewan ditampilkan dalam kondisi sehat dan jinak, siap menjadi media pembelajaran langsung bagi pengunjung.
Misi utama Alpesat adalah mengenalkan reptil kepada masyarakat secara bijak. Edukasi yang diberikan mencakup cara perawatan, habitat asli, hingga potensi bahaya jika tidak ditangani dengan benar.
“Kami ingin masyarakat tahu bahwa reptil bukan hanya menakutkan, tapi juga menarik jika dipahami,” kata Yonda pada Minggu, 19 Oktober 2025.
Kegiatan ini mendapat sambutan positif dari berbagai kalangan. Banyak orang tua yang mengajak anak-anak mereka untuk belajar langsung dari komunitas. Beberapa bahkan tertarik untuk bergabung dan belajar lebih dalam tentang dunia satwa. Interaksi langsung dengan hewan menjadi daya tarik utama yang sulit ditemukan di tempat lain.
Alpesat juga menekankan pentingnya tanggung jawab dalam memelihara hewan eksotik. Mereka tidak mendorong masyarakat untuk memelihara reptil sembarangan, melainkan mengajak untuk memahami dulu karakteristik dan kebutuhan hewan tersebut. Edukasi ini menjadi langkah awal menuju konservasi yang lebih luas.
Dengan pendekatan yang ramah dan informatif, Yonda dan Komunitas Alpesat berhasil mengubah CFD Palangka Raya menjadi ruang belajar terbuka. Reptil yang dulu dianggap menakutkan kini menjadi sahabat baru bagi masyarakat yang ingin tahu lebih banyak tentang dunia satwa. (TESTI PRISCILLA/H)









