BORNEONEWS, Palangka Raya - Barito Utara kembali menunjukkan kiprahnya sebagai daerah yang konsisten dalam pelestarian bahasa daerah. Setelah dua kali meraih penghargaan sebagai pemerintah daerah aktif dalam program Revitalisasi Bahasa Daerah atau RBD, tahun ini Barito Utara memperluas cakupan revitalisasi dengan fokus pada empat bahasa: Maanyan, Bakumpai, Dusun Malang, dan Tawoyan.
Keempat bahasa ini merupakan bagian dari kekayaan budaya lokal yang terus dijaga eksistensinya melalui berbagai kegiatan pembinaan dan festival.
Program revitalisasi yang dijalankan tidak hanya menyasar siswa di sekolah, tetapi juga melibatkan guru, komunitas budaya, dan masyarakat umum. Pendekatan inklusif ini menjadi kekuatan utama Barito Utara dalam membangun kesadaran kolektif akan pentingnya bahasa ibu sebagai identitas daerah. Melalui pelatihan, lokakarya, dan lomba-lomba berbasis bahasa daerah, masyarakat diajak untuk aktif berpartisipasi dalam menjaga warisan leluhur.
Dalam sambutannya pada pembukaan Festival Tunas Bahasa Ibu atau FTBI, Bupati Barito Utara, H Salahudin, yang diwakili oleh Sekretaris Daerah, menyampaikan apresiasi atas antusiasme masyarakat dan dukungan dari berbagai pihak. Ia menegaskan bahwa pemerintah daerah siap memfasilitasi dan mengalokasikan anggaran khusus untuk mendukung program revitalisasi ini secara berkelanjutan.
“Kami sangat mendukung upaya pelestarian bahasa, sastra, dan budaya daerah melalui kegiatan seperti FTBI ini,” kata Sekretaris Daerah, Drs Muhlis dalam rilis Balai Bahasa Kalteng kepada Borneonews pada Senin, 20 Oktober 2025.
Pernyataan Bupati tersebut memperkuat posisi Barito Utara sebagai daerah yang tidak hanya responsif terhadap kebijakan nasional, tetapi juga proaktif dalam mengembangkan strategi lokal pelestarian bahasa. Dukungan anggaran dan kebijakan yang berpihak pada pelestarian budaya menjadi fondasi penting dalam menjaga keberlangsungan program revitalisasi. Hal ini juga menjadi sinyal positif bagi Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah dalam menjalin kemitraan strategis dengan pemerintah daerah.
Kegiatan FTBI sendiri menjadi puncak dari proses pembinaan yang telah berlangsung selama beberapa bulan. Para peserta yang tampil dalam berbagai cabang lomba merupakan hasil dari proses pendampingan intensif oleh guru dan fasilitator bahasa daerah. Keberhasilan mereka dalam menampilkan karya berbahasa ibu menjadi bukti nyata bahwa revitalisasi bukan sekadar wacana, tetapi gerakan yang hidup di tengah masyarakat.
Dengan semangat kolaborasi dan dukungan penuh dari pemerintah daerah, Barito Utara diharapkan dapat terus menjadi contoh inspiratif bagi kabupaten lain di Kalimantan Tengah dan Indonesia secara umum. Revitalisasi bahasa daerah bukan hanya tentang mempertahankan kosakata, tetapi juga tentang membangun jati diri dan kebanggaan generasi muda terhadap budaya mereka sendiri. (TESTI PRISCILLA/H)









