PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Festival Tunas Bahasa Ibu atau FTBI Kabupaten Barito Utara tahun 2025 berlangsung dengan meriah dan penuh semangat kebersamaan. Kegiatan yang digelar sebagai bagian dari program Revitalisasi Bahasa Daerah atau RBD ini tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga ruang ekspresi dan apresiasi bagi generasi muda yang peduli terhadap kekayaan bahasa dan sastra daerah di Bumi Iya Mulik Bengkang Turan.

Menurut Kassubag TU Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah, Kambang, FTBI adalah wujud nyata dari keberhasilan pembinaan bahasa daerah yang dilakukan secara berjenjang.

“Kegiatan ini bukan sekadar lomba, tetapi hasil dari proses panjang yang melibatkan guru, siswa, dan komunitas. Ini adalah bukti bahwa pelestarian bahasa daerah bisa dilakukan secara sistematis dan menyenangkan,” kata Kambang dalam rilisnya pada Senin, 20 Oktober 2025.

Perjalanan RBD dimulai dari pelatihan guru utama di awal tahun, yang dilaksanakan di Palangka Raya. Guru utama kemudian mengimbaskan pengetahuan kepada guru kelas, yang selanjutnya menyampaikan materi kepada siswa. Proses ini berlangsung selama beberapa bulan dan berpuncak pada pelaksanaan FTBI di tingkat kabupaten, sebelum nantinya dilanjutkan ke tingkat provinsi pada bulan November mendatang.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Barito Utara, Syamiludin, menyampaikan bahwa para juara dari setiap bahasa akan diikutsertakan dalam FTBI tingkat provinsi, baik dalam bentuk lomba maupun ekshibisi. Ia juga menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk terus menganggarkan dana bagi pelaksanaan program RBD setiap tahunnya.

“Kami melihat dampak positif dari kegiatan ini, dan akan terus mendukung agar pelestarian bahasa daerah menjadi gerakan yang berkelanjutan,” katanya.

Antusiasme peserta dan dukungan masyarakat menjadi indikator keberhasilan FTBI tahun ini. Anak-anak tampil percaya diri menggunakan bahasa daerah mereka dalam berbagai bentuk karya, mulai dari puisi hingga pertunjukan komedi tunggal. Kegiatan ini juga memperkuat rasa bangga terhadap identitas lokal dan mempererat hubungan antar komunitas budaya di Barito Utara.

Dengan semangat yang terus menyala, FTBI Barito Utara 2025 menjadi bukti bahwa pelestarian bahasa daerah bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga gerakan bersama yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah berharap bahwa model pembinaan seperti ini dapat direplikasi di daerah lain, demi masa depan bahasa ibu yang lebih cerah dan berdaya. (TESTI PRISCILLA/H)