BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Kondisi kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) di berbagai Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), seakan tidak pernah menemukan titik akhir. Warga pun mengeluhkan antrean panjang dan keberadaan para pelangsir yang dinilai semakin meresahkan.
Ari, salah seorang warga Pangkalan Bun, Senin, 20 Oktober 2025 mengaku jengkel dengan situasi ini. Sebagai pengguna kendaraan roda dua yang membutuhkan BBM untuk keperluan kerja setiap hari, ia merasa dirugikan dengan kondisi yang tidak menentu.
“Kami ini warga biasa, hanya butuh BBM seperlunya untuk kerja. Tapi harus bersaing dengan para pelangsir yang bolak-balik beli BBM di SPBU. Kadang antre panjang, kadang malah BBM sudah habis,” keluh Ari.
Ia juga menyoroti fenomena di media sosial, di mana keluhan warga banyak disampaikan. Namun, anehnya, masih ada warganet yang justru mendukung keberadaan para pelangsir dengan alasan kasihan dan faktor ekonomi.
“Padahal, keberadaan mereka itu sangat meresahkan. Kami yang benar-benar butuh BBM malah susah. Bahkan untuk beli Pertamax saja sekarang antreannya panjang,” ujarnya.
Ari mengungkapkan, karena kesulitan mendapatkan BBM di SPBU, ia kini terpaksa membeli di kios-kios pinggir jalan dengan harga yang jauh lebih tinggi.
“Sekarang saya beli Pertamax di pinggir jalan, harganya sudah Rp15.000 per botol. Bayangkan bagaimana dengan kurir atau ojek online yang setiap hari butuh BBM untuk kerja. Kalau antre di SPBU, waktunya habis. Kalau tidak antre, BBM-nya sudah habis,” ungkapnya.
Ia juga menyebut, beberapa waktu lalu aparat kepolisian sempat melakukan patroli dan penertiban terhadap para pelangsir yang diduga menimbun BBM. Namun, situasi tersebut tidak bertahan lama.
“Sempat kemarin ada patroli polisi, beberapa pelangsir diamankan. Tapi setelah petugas tidak ada, mereka muncul lagi. SPBU kembali penuh oleh pelangsir,” tambah Ari.
Warga berharap pemerintah daerah bersama aparat keamanan dapat melakukan pengawasan secara berkelanjutan agar penyaluran BBM benar-benar sampai kepada masyarakat yang membutuhkan, bukan justru dikuasai oleh oknum yang mencari keuntungan pribadi. (WAHYU KRIDA/H)









