BORNEONEWS, Palangka Raya - Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan atau BPDP, Eddy Abdurrahman, menegaskan bahwa sumber daya manusia atau SDM merupakan faktor krusial dalam mendorong kemajuan dan keberlanjutan industri kelapa sawit nasional, terutama di era yang semakin digerakkan oleh inovasi.
“Dalam era innovation-driven, produktivitas industri sawit sangat bergantung pada dua hal: ilmu pengetahuan dan SDM yang kompeten. Tanpa keduanya, kita akan tertinggal,” ujar Eddy dalam pernyataannya pada Senin, 20 Oktober 2025, merujuk pada kajian PASPI (2019).
Ia menambahkan bahwa pengembangan SDM bukan hanya soal peningkatan kapasitas teknis, tetapi juga menyangkut daya saing industri sawit Indonesia di kancah global.
“Kita perlu SDM yang tidak hanya mampu bekerja di lapangan, tetapi juga berinovasi, beradaptasi, dan berkolaborasi lintas sektor,” tegasnya.
Menurut PASPI, SDM industri sawit terbagi dalam dua kategori utama: SDM pelaku usaha dan SDM ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Keduanya memiliki peran saling melengkapi dalam rantai produksi dan pengembangan industri sawit.
SDM ini mencakup tenaga kerja di perkebunan rakyat, swasta, BUMN/BUMD, serta sektor hilir. Penguatan kapasitas dilakukan melalui pelatihan kultur teknis (hard skill) dan dinamika kelompok (soft skill), termasuk pelatihan manajerial bagi pengurus kelembagaan pekebun. Di tingkat perusahaan, peningkatan kompetensi difasilitasi melalui pendidikan internal dan eksternal yang disesuaikan dengan tugas pokok dan fungsi masing-masing karyawan.
SDM IPTEK berperan dalam menghasilkan invensi dan mengubahnya menjadi inovasi yang aplikatif. Mereka juga bertanggung jawab atas pendidikan dan regenerasi tenaga kerja sawit. Untuk mendukung peran ini, diperlukan kebijakan insentif seperti penambahan KPI berbasis inovasi, alokasi dana riset, dan penguatan kelembagaan riset nasional.
Eddy Abdurrahman menyoroti pentingnya sinergi antara dunia pendidikan dan industri.
“Kita perlu kurikulum spesifik kelapa sawit yang relevan dengan kebutuhan industri masa depan. Ini bukan hanya soal teori, tapi juga praktik dan teknologi terkini,” ujarnya.
Ia juga mendorong Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) untuk mengambil peran sebagai koordinator nasional riset sawit, guna menyatukan hasil penelitian dari berbagai lembaga dan mendorong komersialisasi inovasi.
“Industri sawit kita tidak bisa hanya mengandalkan lahan dan produksi. Kita harus membangun ekosistem SDM yang tangguh, inovatif, dan berkelanjutan,” tutur Eddy. (TESTI PRISCILLA/y)









