BORNEONEWS, Sampit – Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) saat ini menghadapi masalah terkait kekurangan dokter spesialis dan tenaga kesehatan pendukung. Kondisi ini menyebabkan sebagian pasien terpaksa dirujuk ke rumah sakit di luar daerah, seperti Palangka Raya atau Pangkalan Bun, karena RSUD dr. Murjani Sampit belum memiliki dokter spesialis yang mampu menangani kasus mereka.
Kepala Dinas Kesehatan Kotim, Umar Kaderi, mengungkapkan bahwa kekurangan ini tidak hanya membebani keluarga pasien, tetapi juga meningkatkan risiko terhadap keselamatan pasien.
"Rujukan ke rumah sakit di luar daerah memerlukan waktu tempuh sekitar empat jam," ujarnya, Senin, 20 Oktober 2025.
Salah satu kebutuhan mendesak adalah dokter spesialis bedah saraf. Umar menjelaskan banyak kondisi pasien yang memerlukan penanganan cepat oleh dokter spesialis bedah saraf agar nyawa mereka bisa diselamatkan. Ia menambahkan, penanganan yang terlambat dapat berakibat fatal.
"Kalau ada spesialis bedah saraf di sini maka akan bisa cepat. Kita sudah punya CT Scan dan dokter radiologi, sehingga begitu diagnosanya misalnya ada pembekuan darah di otak stroke maka bisa dilakukan bedah tengkorak," jelasnya.
Menangani masalah tersebut, Pemkab Kotawaringin Timur telah mengambil langkah antisipatif dengan membuat program tugas belajar pendidikan dokter spesialis.
"Program ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan dokter spesialis yang mendesak, serta mengantisipasi berkurangnya jumlah dokter spesialis akibat pensiun dan mutasi," pungkasnya. (DEVIANA/y)









