PULANG PISAU –

BORNEONEWS, Pulang Pisau - Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kabupaten Pulang Pisau  (Pulpis), dr Pande Putu Gina mengatakan, ada 29 desa telah ditetapkan sebagai lokus stunting dengan 462 anak sasaran. Ini berdasarkan data by name by address.

“Anak-anak di luar daftar tersebut tetap ditangani oleh Puskesmas dan pemerintah desa agar seluruh balita stunting tertangani tanpa tumpang tindih,” kata Pande. Seni, 20 Oktober 2025.

Dijelaskan Pande, kegiatan ini melibatkan unsur desa, kader posyandu, serta petugas Puskesmas. Sebelum pemberian makanan tambahan, dilakukan pengukuran kondisi awal anak. Pengukuran ulang akan dilakukan pada hari ke-22 atau 23, dan pengukuran akhir di hari ke-45 untuk menilai efektivitas intervensi.

Selain pemberian makanan tambahan, anak-anak juga mendapatkan vitamin dan suplemen gizi guna memperbaiki status gizi mereka. 

Terkait program “Bapak Asuh” dan “Bunda Asuh” anak stunting, Kadinkes menyebut tahun ini metode pelaksanaannya sedikit berbeda.

“Kalau tahun lalu seluruh dinas terlibat langsung di tiap desa, tahun ini penanganan intervensi spesifik difokuskan di Dinas Kesehatan sesuai tupoksi,” jelas Pande

Setiap desa lokus ditangani oleh tim teknis dari Dinas Kesehatan dan didampingi oleh TPPS yang diketuai Wakil Bupati. Beberapa kepala desa seperti Bakau dan Tangkahen juga telah meminta pendampingan langsung dari tim di lapangan.

Untuk menghindari tumpang tindih data, sistem by name by address dijalankan secara ketat. Jika dalam proses pengukuran anak sudah tidak masuk kategori stunting, maka namanya akan dikeluarkan dari daftar tanpa diganti oleh anak lain.

“Kami pastikan semua yang terdaftar adalah benar-benar anak stunting di lokasi yang ditetapkan. Harapan kita bersama, program ini berjalan efektif dan angka stunting di Kabupaten Pulang Pisau benar-benar menurun di tahun 2025,” tutup Pande. (RETHA/y)