PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Pengamat Ekonomi Kalimantan Tengah Bidang Perkebunan, Rawing Rambang, menegaskan bahwa hilirisasi produk perkebunan dan hasil hutan merupakan langkah strategis dalam memperkuat ekonomi daerah. Menurutnya, hilirisasi adalah proses mengubah bahan mentah menjadi produk bernilai tambah, seperti kelapa sawit yang diolah menjadi margarin atau rotan yang dijadikan furnitur.

“Dengan nilai tambah, harga produk meningkat dan lapangan kerja pun terbuka lebih luas,” ujarnya pada Rabu, 22 Oktober 2025.

Rawing menjelaskan bahwa tenaga kerja yang terserap dalam industri hilir umumnya memiliki kompetensi lebih tinggi dibandingkan sektor hulu. Oleh karena itu, pengembangan hilirisasi tidak hanya berdampak pada ekonomi, tetapi juga pada peningkatan kualitas sumber daya manusia.

“Namun, untuk mewujudkan ini, kita butuh pendanaan, keterampilan, dan kemudahan-kemudahan lainnya,” tambahnya.

Ia menekankan pentingnya input teknologi dalam proses hilirisasi, meskipun biaya investasi yang dibutuhkan relatif tinggi.

“Teknologi itu mahal, tapi dampaknya besar. Bisa memperkuat ekonomi daerah sekaligus nasional,” kata Rawing lagi.

Ia menyebut bahwa saat ini sektor kelapa sawit sudah mulai menunjukkan arah hilirisasi melalui pembangunan industri pengolahan oleh beberapa perusahaan besar.

“Musimas, Sinarmas, dan CBI sudah membangun industri hilir seperti pengolahan minyak dan margarin. Ini harusnya jadi contoh bagi sektor lain,” ungkapnya.

Menurut Rawing, langkah-langkah tersebut menunjukkan bahwa hilirisasi bukan sekadar wacana, melainkan sudah mulai diterapkan di lapangan, meski belum merata di semua komoditas.

Rawing juga mengungkap bahwa investasi di sektor hilir tidak murah. Untuk industri kelapa sawit, misalnya, dibutuhkan dana sekitar 1 juta US Dollar dengan luas lahan rata-rata mencapai 50 ribu hektare.

“Ini tantangan besar, tapi juga peluang besar jika kita bisa menarik investor dan menyiapkan infrastruktur pendukung,” katanya.

Ia berharap pemerintah daerah dan pelaku usaha dapat bersinergi dalam mendorong hilirisasi secara lebih luas.

“Kalau kita serius membuka ruang bagi investasi dan mendukung pelatihan tenaga kerja, maka Kalimantan Tengah bisa menjadi pusat industri berbasis perkebunan dan hasil hutan yang berdaya saing,” tutur Mantan Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Kalteng ini. (TESTI PRISCILLA/j)