PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan atau BPDP, Eddy Abdurrahman, menegaskan bahwa industri minyak sawit memiliki peran strategis dalam upaya pengentasan kemiskinan global. Menurutnya, setiap mata rantai pasok industri ini berpotensi menciptakan sumber pendapatan dan menyediakan bahan pangan yang terjangkau bagi masyarakat berpenghasilan rendah di berbagai belahan dunia.

“Minyak sawit bukan hanya komoditas ekspor, tetapi juga instrumen pembangunan sosial yang nyata. Dari hulu hingga hilir, kontribusinya terhadap pengurangan kemiskinan sangat signifikan,” ujar Eddy pada Rabu, 22 Oktober 2025.

Pernyataan tersebut sejalan dengan temuan PASPI Monitor (2021) yang menyebutkan bahwa industri minyak sawit berperan dalam menurunkan angka kemiskinan global melalui tiga jalur utama: pengembangan perkebunan di negara produsen, hilirisasi di negara pengimpor, dan penyediaan minyak sawit dengan harga terjangkau.

Studi PASPI (2014) menunjukkan bahwa peningkatan produksi minyak sawit sebesar 10 persen berkontribusi terhadap penurunan angka kemiskinan hingga 7,7 persen. Perkebunan kelapa sawit menciptakan lapangan kerja dan peluang usaha, terutama di wilayah pedesaan, dengan pendapatan petani sawit tercatat 5–10 kali lebih tinggi dibandingkan petani non-sawit.

Penelitian oleh Edwards (2019) juga mengonfirmasi bahwa kabupaten dengan area perkebunan sawit yang luas mengalami penurunan kemiskinan lebih cepat dibandingkan wilayah tanpa perkebunan. Temuan serupa tercatat di Malaysia, Papua Nugini, Nigeria, dan Kolombia, memperkuat posisi sawit sebagai penggerak utama pengurangan kemiskinan di negara produsen.

Di negara-negara pengimpor, minyak sawit diolah menjadi berbagai produk pangan dan non-pangan. Proses hilirisasi ini menciptakan nilai tambah ekonomi berupa lapangan kerja dan peningkatan pendapatan. Studi Europe Economics (2016) mencatat bahwa kegiatan hilirisasi minyak sawit menciptakan peluang kerja bagi sekitar 2,3 juta orang dan menghasilkan pendapatan ekonomi sebesar US$32,8 miliar atau sekitar Rp544,48 triliun.

“Efek ekonomi dari hilirisasi sawit tidak hanya dirasakan oleh pelaku industri, tetapi juga berdampak positif bagi masyarakat berpenghasilan rendah melalui perputaran ekonomi dan penciptaan lapangan kerja,” tambah Eddy.

Minyak sawit merupakan minyak nabati dengan harga paling kompetitif dibandingkan minyak kedelai, rapeseed, dan bunga matahari. Harga yang lebih murah memungkinkan masyarakat miskin mengakses minyak goreng dalam jumlah lebih besar, sekaligus mengalokasikan anggaran untuk kebutuhan pokok lainnya.

“Dengan harga yang terjangkau, minyak sawit menjadi solusi pangan bagi jutaan keluarga berpenghasilan rendah di dunia,” ujar Eddy.

Berbagai studi dan data menunjukkan bahwa industri minyak sawit memiliki dampak nyata dalam pengurangan kemiskinan, baik melalui penciptaan lapangan kerja, peningkatan pendapatan, maupun penyediaan bahan pangan yang terjangkau. BPDP terus mendorong pengembangan industri ini secara berkelanjutan dan inklusif, agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat global. (TESTI PRISCILLA/j)