BORNEONEWS, Sampit – Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menelusuri dugaan kasus perundungan (bullying) yang terjadi di Sekolah Rakyat Kotim setelah seorang siswa berinisial P (8) dikabarkan enggan kembali ke sekolah karena diduga menjadi korban kekerasan dari temannya.
Kepala Dinsos Kotim Hawianan mengatakan, pihaknya sudah menerima laporan awal terkait dugaan tersebut dan akan melakukan penelusuran lebih lanjut.
“Terkait Sekolah Rakyat, memang ada informasi adanya bullying. Di sana ada sekitar 100 murid dan 10 wali asuh, jadi satu wali mengurus 10 anak. Kami belum tahu persis kejadiannya karena baru menerima informasi sepihak. Namun, ini akan kami telusuri lebih dalam,” kata Hawianan, Selasa, 21 Oktober 2025.
Ia menjelaskan, para siswa di Sekolah Rakyat berasal dari berbagai latar belakang dan baru tiga minggu menempati lingkungan tersebut. Karena itu, pihaknya menilai perlu masa penyesuaian yang lebih intens untuk membangun interaksi sosial yang sehat di antara para siswa.
Sebelumnya, W, tante korban, mengungkapkan bahwa keponakannya dibawa pulang dalam kondisi mata lebam dan mengaku sempat dipukul oleh temannya.
“Iya benar, sering ribut sama temannya. Kemarin dijemput, matanya biru. Kata P, dia ditampar sama temannya. Karena sering ribut, jadi dijemput pulang takut terjadi apa-apa,” ujarnya.
Hal senada disampaikan oleh N, ibu korban, yang menyebut anaknya kini sedang sakit dan sempat muntah-muntah usai kejadian.
“Bawah matanya biru saat dijemput, kata neneknya P diminta uang sama temannya, marah kalau tidak dikasih,” tutur N.
Sementara itu, Kepala Sekolah Rakyat Kotim, Nikkon Bhastari, mengatakan belum mengetahui secara pasti adanya dugaan perundungan. Ia menjelaskan, siswa tersebut sebelumnya sempat meminta izin pulang ke rumah neneknya di Sampit.
“Mungkin karena rindu dengan neneknya, jadi dia minta izin pulang. Kami beri izin tiga hari, Sabtu sampai Senin. Tapi hari ini belum kembali. Kami akan tindak lanjuti dengan mengunjungi rumah neneknya,” jelas Nikkon.
Terkait dugaan perundungan, Nikkon menegaskan pihaknya belum menemukan indikasi tersebut berdasarkan hasil pantauan CCTV sekolah. Ia menyebut P dikenal sebagai anak yang aktif dan ceria.
“P itu anaknya aktif dan suka bermain. Namun memang kami tidak bisa memantau mereka terus-menerus di kamar,” tambahnya.
Meski demikian, pihak sekolah mengakui perlunya pembinaan lebih lanjut untuk mengajarkan perilaku sosial yang baik kepada siswa.
“Anak-anak berasal dari berbagai daerah pelosok dan masih beradaptasi. Kadang mereka belum paham batas antara bercanda dan mengejek. Ini yang akan kami perkuat lewat pembinaan,” kata Nikkon.
Pihak sekolah berencana melakukan pertemuan bersama wali asrama dan keluarga korban untuk mencari solusi terbaik agar siswa tersebut bisa kembali belajar dengan nyaman.
Belakangan, keluarga korban dikabarkan memilih menyelesaikan persoalan secara kekeluargaan. (DEWI PATMALASARI/j)









