BORNEONEWS, Sampit – Warga Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) digemparkan oleh kemunculan seekor beruang madu di jalan poros perkebunan kelapa sawit.
Kejadian ini terekam dalam video berdurasi sekitar 51 detik yang viral di media sosial Facebook, menimbulkan kekhawatiran di kalangan warga sekitar.
Dalam video tersebut terlihat seekor beruang madu melintas dengan santai di tengah jalan tanah yang menjadi jalur utama menuju area perkebunan.
Perekam video terdengar panik sambil memperingatkan warga lain untuk berhati-hati. Tak lama kemudian, hewan dilindungi itu berbalik arah dan masuk ke kawasan kebun sawit hingga menghilang dari pandangan.
Kepala BKSDA Resort Sampit, Muriansyah, membenarkan kebenaran video tersebut. Berdasarkan hasil penelusuran dan koordinasi dengan sejumlah pihak, lokasi kemunculan satwa itu diketahui berada di wilayah Kecamatan Cempaga, Kabupaten Kotim.
“Benar, setelah kami telusuri dan lakukan koordinasi, lokasi video tersebut berada di area perkebunan kelapa sawit wilayah Cempaga,” kata Muriansyah, Rabu, 22 Oktober 2025.
Ia menyampaikan bahwa pihaknya sudah menjalin komunikasi dengan pengelola perkebunan untuk memastikan keamanan pekerja maupun warga di sekitar area kemunculan beruang.
“Kami sudah berkoordinasi dengan perusahaan terkait dan akan segera melakukan observasi langsung ke lapangan untuk memantau kondisi serta memastikan keberadaan satwa tersebut,” tambahnya.
Kemunculan beruang madu di kawasan perkebunan diduga kuat akibat terganggunya habitat alami atau karena satwa tersebut sedang mencari sumber makanan.
Muriansyah mengimbau masyarakat agar tidak panik dan tidak melakukan tindakan yang dapat membahayakan satwa maupun manusia.
"Beruang madu termasuk satwa dilindungi berdasarkan Permen LHK Nomor P.106 Tahun 2018. Kami minta masyarakat tidak mengusir atau menangkapnya. Bila melihat keberadaan satwa liar, segera laporkan ke BKSDA agar bisa ditangani dengan cara yang aman,” ujarnya.
Saat ini tim BKSDA Resort Sampit bersama pihak perusahaan tengah bersiap melakukan observasi lanjutan untuk memantau pergerakan beruang madu tersebut.
Langkah ini dilakukan guna mencegah potensi konflik antara satwa liar dan aktivitas masyarakat di sekitar perkebunan. (DEWI PATMALASARI/R)









