BORNEONEWS, Sampit – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kotawaringin Timur (Kotim) menjelaskan alasan tertundanya pembangunan permanen Jembatan Sei Mentawa 1 atau Jembatan Patah, yang berada di Jalan Kapten Mulyono, Sampit. Perencanaan proyek tersebut sebelumnya telah masuk dalam rencana kerja sejak tahun 2023, namun belum dapat direalisasikan karena efisiensi anggaran.
Kepala Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga, Bina Konstruksi, Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (SDABMBKPRKP) Kotim Mentana Dhinar Tistama mengungkapkan, selain Jembatan Patah, Jembatan Sei Mentawa 2 di Jalan Iskandar juga masuk dalam perencanaan serupa.
“Jembatan Patah sudah sempat kami anggarkan tahun 2023 untuk feasibility study (FS) dan perencanaan, tapi karena efisiensi anggaran akhirnya tertunda. Tahun ini insyaallah akan kami lakukan FS lagi,” uajar Mentana, Kamis, 23 Oktober 2025.
Ia menambahkan, dua jembatan tersebut memiliki tingkat kompleksitas tinggi karena menyangkut kondisi lahan dan struktur konstruksi yang belum sepenuhnya teridentifikasi.
Oleh sebab itu, kajian teknis mendalam sangat diperlukan agar hasil pembangunan nantinya sesuai standar dan memiliki daya tahan yang maksimal.
“Dua jembatan ini agak pelik karena berkaitan dengan lahan dan struktur konstruksi yang belum jelas, jadi perlu kajian lebih mendalam,” tambahnya.
Setelah kajian feasibility study selesai, barulah pemerintah daerah akan menentukan jenis konstruksi jembatan permanen yang paling tepat.
“Kalau FS sudah selesai, kita bisa menentukan konstruksi yang paling sesuai. Yang pasti, kondisi jembatan ini tetap jadi perhatian kami. Sambil menunggu pembangunan permanen, kami akan terus lakukan pemeliharaan agar tetap bisa difungsikan oleh masyarakat,” tandasnya. (DEWI PATMALASARI/j)









