BORNEONEWS, Tamiang Layang – Pemerintah Kabupaten Barito Timur terus menunjukkan komitmen dalam melestarikan bahasa dan budaya daerah melalui penyelenggaraan Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) 2025, Jumat, 24 Oktober 2025.
Ajang bergengsi tingkat kabupaten ini digelar oleh Dinas Pendidikan Barito Timur di Gedung Tenis Indoor RTH Taman Nansarunai Nansarunai Tamiang Layang dan diikuti oleh sekitar 200 pelajar jenjang SD dan SMP dari berbagai sekolah di daerah itu.
Festival ini menjadi sarana penting untuk menghidupkan kembali penggunaan Bahasa Dayak Maanyan dan Bahasa Bakumpai di kalangan generasi muda, sekaligus memperkuat rasa bangga terhadap bahasa ibu sebagai identitas budaya daerah.
Ketua Panitia FTBI sekaligus Kepala Bidang SMP Dinas Pendidikan Barito Timur, Lia Damayanti, mengatakan bahwa tahun ini terdapat 22 jenis lomba yang terbagi ke dalam dua bahasa dan dua jenjang pendidikan.
“Ada enam lomba Bahasa Maanyan tingkat SD, enam lomba Bahasa Maanyan tingkat SMP, lima lomba Bahasa Bakumpai tingkat SD, dan lima lomba Bahasa Bakumpai tingkat SMP,” ujar Lia.
Ia menambahkan, berbagai cabang lomba yang digelar meliputi Tumet Leut, Komedi Tunggal (Stand Up Comedy), Cipta Puisi, Pidato, dan Mendongeng, yang seluruhnya menggunakan bahasa daerah.
“Melalui lomba-lomba ini, kami ingin menumbuhkan kebanggaan dan kecintaan anak-anak terhadap bahasa daerah mereka sendiri,” tambahnya.
FTBI, lanjut Lia, bukan sekadar ajang kompetisi, tetapi juga ruang ekspresi kreatif bagi pelajar untuk menunjukkan kemampuan berbahasa daerah dengan cara yang menyenangkan dan relevan dengan dunia mereka saat ini.
“Bahasa daerah jangan sampai hanya jadi kenangan. Kita ingin pelajar mampu berbicara, menulis, dan berpikir dalam bahasa ibu tanpa kehilangan semangat modernitas,” ujarnya.
Pemerintah daerah berharap kegiatan tahunan ini dapat menjadi tonggak penting dalam memperkuat identitas kultural Barito Timur yang kaya akan keberagaman bahasa.
“Pelestarian bahasa daerah adalah bagian dari pelestarian jati diri. Dari bahasa, kita mengenal nilai, kearifan, dan sejarah leluhur,” tutup Lia. (AGUSTINUS BOLE MALO/j)









