BORNEONEWS, Palangka Raya - Sekretaris Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia atau GAPKI Cabang Kalimantan Tengah, Rawing Rambang, menegaskan bahwa Kalimantan Tengah memiliki potensi luar biasa untuk berkontribusi dalam pembangunan nasional melalui hilirisasi industri.
“Sumber daya kita luar biasa. Tinggal dikelola dengan baik,” kata Rawing pada Jumat, 24 Oktober 2025.
Ia menyampaikan optimisme bahwa pemerintahan mendatang akan membawa arah yang lebih baik dalam pengelolaan potensi daerah.
Namun, Rawing juga menyoroti sejumlah tantangan yang dihadapi dalam memperluas hilirisasi, terutama di sektor perkebunan. Menurutnya, logistik di Kalimantan Tengah sudah cukup memadai, tetapi infrastruktur masih menjadi kendala utama.
“Daerah kita ini luas, jadi memang perlu sumber dana yang luar biasa untuk membangun akses dan konektivitas,” jelasnya.
Selain itu, Rawing mengingatkan pentingnya kesiapan menghadapi persaingan global. Ia menekankan bahwa investasi sumber daya manusia menjadi kunci agar Indonesia tidak tertinggal dalam kompetisi industri.
“Kita jangan lupa, negara lain juga bergerak cepat. Maka SDM kita harus siap,” katanya.
Iklim politik yang stabil juga menjadi faktor krusial dalam menarik investasi jangka panjang. Rawing mencontohkan bahwa di sektor perkebunan, masa balik modal bisa mencapai 12 hingga 15 tahun.
“Investasi hilirisasi itu tidak murah. Kalau negara tidak stabil, investor akan ragu,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa kepastian hukum dan kebijakan yang konsisten sangat dibutuhkan.
Lebih lanjut, Rawing menyoroti pentingnya reformasi dalam proses perizinan. Menurutnya, pengusaha membutuhkan pelayanan yang cepat, tepat, dan akurat.
“Kalau sudah ribet, pengusaha bisa mundur. Mereka butuh efisiensi dalam birokrasi,” ujar Mantan Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Kalteng ini lagi.
Ia mendorong agar pemerintah daerah dan pusat mempercepat digitalisasi dan transparansi dalam perizinan usaha.
Dengan segala tantangan tersebut, Rawing tetap percaya bahwa Kalimantan Tengah mampu menjadi motor hilirisasi nasional jika dikelola secara strategis dan inklusif.
“Membangun Indonesia bisa dimulai dari sini. Asal kita serius, kolaboratif, dan konsisten,” tuturnya. (TESTI PRISCILLA/H)









