BORNEONEWS, Kuala Kapuas - Tradisi Bapukung, sebuah kearifan lokal yang unik dan telah diwariskan secara turun-temurun oleh Suku Banjar, tetap lestari hingga kini sebagai cara menidurkan bayi. Istilah Bapukung sendiri berasal dari kata dasar pukung, yang berarti posisi duduk berselonjor.
Prosesnya melibatkan penempatan bayi dalam ayunan kain dengan posisi duduk, kaki diluruskan, dan seluruh tubuh diikat atau dibalut kain dengan aman, menyerupai posisi janin di dalam kandungan.
Tradisi ini umumnya dilakukan pada bayi yang sudah kuat duduk, yaitu sekitar usia 2 hingga 18 bulan.
Cara menidurkan bayi ini bukan sekadar teknik membuai, tetapi sarat dengan nilai-nilai budaya dan spiritual. Ketika bayi diayun, ibu atau pengasuh akan melantunkan syair bahari (lagu atau pantun pengantar tidur) yang sering kali berisi doa, dzikir, pujian shalawat Nabi, atau bacaan ayat suci Al-Qur'an.
Harapan di baliknya adalah agar bayi memiliki hubungan emosional dan komunikasi verbal dengan ibunya sejak dini, mengenal risalah dan puji-pujian kepada Allah dan Rasul-Nya, serta kelak menjadi anak yang saleh, salihah, berbakti, patuh, dan berbudi pekerti baik.
Secara teknis, proses Bapukung dimulai dengan menyiapkan ayunan kain yang digantung mirip hammock.
Bayi diletakkan dalam ayunan tersebut, kemudian diikat dari punggung hingga leher dengan kain panjang (tapih bahalai) yang dililit sedemikian rupa agar bayi merasa hangat dan aman, serta geraknya terbatas. Ikatan harus terukur, tidak terlalu kuat agar bayi tetap bisa bernapas, namun tidak juga terlalu longgar agar tidak terjatuh.
Proses "mamukung" (mengikat/membungkus bayi) ini perlu dilakukan oleh orang yang ahli atau dengan sangat hati-hati.
Tradisi Bapukung dipercaya memberikan beragam manfaat bagi bayi. Balutan kain yang rapat dan posisi duduk berselonjor membuat bayi merasa seperti dipeluk dan kembali ke rahim ibu, sehingga ia cenderung tidur lebih nyenyak, pulas, dan stabil dalam waktu yang lebih lama.
Posisi yang didukung ini juga diyakini masyarakat Banjar dapat membantu memperkuat punggung dan pinggang bayi serta mendukung perkembangan otak, menjadikannya terapi efektif bagi bayi yang rewel, susah tidur, atau bahkan sedang sakit.
Budayawan Kesultanan Banjar, Ersa Fahriyanur mengatakan manfaat bapukung yang dilakukan para ibu ini dapat membuat anak tidur dengan lelap dan tidak sering terjaga.
"Hal ini kerap dilakukan terutama agar ibu bisa beristirahat atau melakukan pekerjaan rumah tangga lainnya," ungkapnya.
"Walau begitu, biasanya setelah anak terlelap akan dipindah dan diletakkan dalam posisi berbaring," tambahnya, dikutip dari Kesultanan Banjar.
Dari sisi kepraktisan, Bapukung juga memudahkan orang tua, terutama ibu. Dengan bayi yang tidur pulas di ayunan, ibu dapat beristirahat atau menyelesaikan pekerjaan rumah tangga lainnya.
Gerakan ayunan yang ritmis juga memberikan kenyamanan stabil yang membuat bayi tidak mudah terbangun oleh suara keras atau gangguan nyamuk, karena sebagian besar tubuhnya tertutup kain.
Bagi bayi yang menyusu dengan botol, posisi duduk saat diayun juga dapat menghindari risiko tersedak.
Meski demikian, tradisi Bapukung tetap membutuhkan edukasi dan kehati-hatian dalam pelaksanaannya. Para ahli menekankan pentingnya proses ini dilakukan dengan benar dan tidak membahayakan bayi.
Bahkan, budayawan Banjar menyarankan agar setelah bayi terlelap pulas, ia sebaiknya dipindahkan dan diletakkan dalam posisi berbaring normal untuk menghindari potensi efek yang kurang baik pada pertumbuhan tulang jika dilakukan terus-menerus dalam jangka waktu yang terlalu panjang.
Pada akhirnya, Bapukung adalah salah satu identitas budaya Banjar yang telah teruji kredibilitasnya selama berabad-abad dari segi keamanan dan kemanfaatannya.
Lebih dari sekadar metode menidurkan, Bapukung adalah warisan pengasuhan yang kaya akan nilai-nilai pendidikan, keagamaan, dan kasih sayang, menjadikannya produk budaya lokal yang patut dilestarikan dan disosialisasikan secara benar kepada generasi muda. (SABRIANOOR/R)









