BORNEONEWS, Palangka Raya – Anggota DPRD Palangka Raya, Rana Muthia Oktari menyoroti kondisi kekurangan tenaga pendidik yang dialami oleh SMP Negeri 2 Palangka Raya.
Menurutnya situasi ini perlu segera mendapat perhatian serius dari Dinas Pendidikan karena berdampak langsung pada kualitas proses belajar mengajar di sekolah tersebut.
“Kekurangan tenaga pengajar ini tentu berpengaruh terhadap kelancaran proses belajar mengajar di sekolah. Hal ini harus segera mendapatkan perhatian dari Dinas Pendidikan,” kata Rana, Sabtu, 26 Oktober 2025.
Ia menjelaskan berdasarkan laporan yang diterimanya, SMPN 2 saat ini kekurangan tenaga pendidik di sejumlah mata pelajaran penting. Di antaranya dua guru agama Kristen, dua guru matematika, satu guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK), satu guru Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKN), satu guru seni budaya, satu guru bahasa Inggris, dua guru bimbingan konseling (BK), serta satu orang pustakawan.
Menurutnya, kondisi tersebut menimbulkan beban tambahan bagi guru yang masih aktif di sekolah. Beberapa guru terpaksa harus mengajar lintas bidang atau menambah jam pelajaran agar seluruh kelas tetap mendapat pembelajaran sesuai jadwal.
“Situasi ini tentu tidak ideal dan berpotensi menurunkan efektivitas pembelajaran,” ujarnya. Rana menilai keberadaan tenaga pendidik yang cukup merupakan faktor kunci dalam menciptakan proses pendidikan yang berkualitas. Apalagi SMPN 2 merupakan salah satu sekolah negeri unggulan di Palangka Raya yang menampung ratusan siswa dari berbagai latar belakang.
Ia mendorong agar Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya segera melakukan evaluasi kebutuhan guru secara menyeluruh dan mengambil langkah konkret untuk mengatasinya.
“Pemerintah daerah perlu melakukan rekrutmen tenaga pendidik baru, atau mengatur redistribusi guru dari sekolah lain yang memiliki kelebihan tenaga pengajar,” tambahnya.
Rana juga menekankan pentingnya perencanaan jangka panjang dalam pengelolaan sumber daya manusia di sektor pendidikan. Dengan begitu, kekurangan guru seperti ini tidak terus berulang setiap tahun ajaran baru.
“Kita berharap ke depan ada sistem yang lebih terencana, agar tidak terjadi kekosongan tenaga pengajar di mata pelajaran inti. Dunia pendidikan harus menjadi prioritas utama karena di sanalah masa depan generasi muda kita dibentuk,” tutupnya. (MARINI/R)









