SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Desa Pondok Damar, Kecamatan Mentaya Hilir Utara (MHU) yang mayoritas penduduknya menganut agama Hindu Kaharingan, terus berupaya melestarikan ritual Tiwah sebagai bagian dari adat dan budaya Dayak. 

Kades Pondok Damar, Kenos, menjelaskan bahwa ritual Tiwah di desa mereka dilaksanakan secara turun-temurun sesuai dengan kemampuan keluarga yang bersangkutan.

"Kalau ritual Tiwah ini khususnya untuk Desa Pondok Damar itu secara turun-temurun memang  khususnya untuk beragama Hindu Kaharingan itu kita laksanakan. Dan itu disesuaikan kemampuan," ujar Kenos, Senin, 27 Oktober 2025.

Baru-baru ini yaitu Minggu (26 Oktober 2025) Desa Pondok Damar melaksanakan ritual Tiwah untuk almarhum Asbulah, yang dilaksanakan selama satu malam karena menyesuaikan dengan kemampuan keluarga.

Kenos menjelaskan bahwa inti dari ritual itu adalah mengantarkan perjalanan terakhir almarhum menghadap Ranjing Hatta Langit.

Menanggapi pertanyaan tentang penggunaan bahan modern seperti beton untuk pembuatan seno (bangunan tempat penyimpanan tulang), Kenos menjelaskan bahwa hal tersebut disesuaikan dengan kondisi dan perkembangan zaman.

"Berhubung untuk bahan, waktu dulu memang seharusnya kayu ulin atau apa, karena kondisi sekarang tidak memungkinkan, jadi itu sudah ada kesepakatan juga disesuaikan jadi bahan yang ada. Nah beton pun bisa, contohnya beberapa hal yang kini, karena ini menyesuaikan modernisasi lah, mengikuti zaman," jelasnya.

Ia juga menegaskan komitmennya untuk mempertahankan budaya Dayak di tengah era globalisasi. Pihaknya terus bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) dan mendukung penuh kegiatan yang berkaitan dengan pelestarian budaya Hindu Kaharingan.

"Kalau kita tetap bekerja sama, khususnya di Disbudpar, kebetulan juga memang di sini hampir mayoritas, 70 persen kita masih menganut Hindu Kaharingan. Dan itu tetap kita pertahankan, kami pun dari selaku pemerintah desa tetap mendukung hal itu," tegasnya.

Kenos menambahkan bahwa Pondok Damar menjadi role model untuk adat Dayak di antara tujuh desa di MHU. Ia juga bersyukur atas bantuan dana aspirasi dari anggota dewan,  yang dialokasikan untuk mendukung kebudayaan Hindu Kaharingan di desa tersebut.

"Hindu Kaharingan ini tetap kita pertahankan sampai manapun karena ini sudah kental dan kita tidak mau ini tergerus oleh zaman apapun ceritanya," pungkas Kenos. (DEVIANA/R)