PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya – Anggota DPRD Palangka Raya, Hap Baperdu, menilai, cuaca ekstrem yang belakangan ini terjadi di wilayah Kota Palangka Raya dan sekitarnya turut berdampak pada sayuran.

Menurut Hap, perubahan cuaca yang tidak menentu seperti hujan deras berkepanjangan dan suhu tinggi mengakibatkan banyak tanaman sayuran gagal panen. Dampaknya, distribusi pasokan ke pasar menjadi terganggu dan berimbas langsung pada harga jual di tingkat konsumen.

“Cuaca ekstrem memang sulit diprediksi, tapi dampaknya sangat terasa di masyarakat. Harga sayur seperti cabai, tomat, sawi, dan kangkung bisa naik dua kali lipat dari harga normal. Ini tentu memberatkan masyarakat, terutama mereka dengan penghasilan harian,” ujar Hap, Senin, 27 Oktober 2025.

Masih menuturnya, fenomena ini perlu menjadi perhatian serius pemerintah daerah agar ketahanan pangan di Palangka Raya tetap terjaga. Pemerintah, kata Hap, perlu menyiapkan langkah antisipatif agar fluktuasi harga sayur tidak terus terjadi setiap kali cuaca ekstrem melanda.

Sebagai solusi, Hap mendorong Pemerintah Kota Palangka Raya melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan untuk memperkuat sistem pertanian perkotaan (urban farming) dan dukungan terhadap petani lokal. Dengan cara ini, masyarakat dapat memproduksi sebagian kebutuhan sayuran secara mandiri di tingkat rumah tangga.

“Urban farming bisa menjadi solusi jangka pendek dan menengah. Selain mengurangi ketergantungan dari luar daerah, juga bisa menekan kenaikan harga saat pasokan terganggu,” jelasnya.

Hap juga menyarankan agar pemerintah membangun sistem logistik dan gudang penyimpanan hasil pertanian yang lebih baik, sehingga sayuran dapat disimpan dalam waktu lebih lama tanpa menurunkan kualitasnya. Upaya ini dinilai penting untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga di pasar.

“DPRD siap mendorong kebijakan yang memperkuat ketahanan pangan daerah. Kita ingin masyarakat tetap bisa mengakses bahan pangan dengan harga terjangkau meski dalam kondisi cuaca ekstrem,” pungkas Hap. (MARINI/y)