PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Kegiatan kunjungan lapangan ke Tambang Emas Martabe oleh mahasiswa dan dosen Program Pascasarjana S2 Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (PSL) Universitas Sumatera Utara (USU) menjadi momentum penting dalam memperkuat sinergi antara dunia akademik dan industri. Kunjungan yang berlangsung pada Selasa, 28 Oktober 2025 ini diikuti oleh 11 peserta, terdiri dari sembilan mahasiswa dan dua dosen pendamping, yakni Prof Rahmawaty dan Dr AAlief Aththorick.

Menurut Prof Rahmawaty, kunjungan ini bukan sekadar observasi, melainkan bagian dari proses pembelajaran transdisipliner yang mengintegrasikan teori, praktik, dan nilai-nilai keberlanjutan.

“Kami ingin mahasiswa memahami bahwa pengelolaan sumber daya alam tidak hanya soal eksploitasi, tetapi juga tentang tanggung jawab sosial dan ekologis,” jelasnya kepada Borneonews pada Rabu, 29 Oktober 2025.

Ia menekankan pentingnya membangun dialog konstruktif antara kampus dan pelaku industri.

Di lokasi tambang, peserta disambut oleh tim PT Agincourt Resources yang memaparkan sejarah perusahaan, potensi cadangan mineral, serta komitmen terhadap pertambangan berwawasan lingkungan. Paparan tersebut membuka ruang diskusi tentang tantangan teknis dan kebijakan dalam menjaga keseimbangan antara produktivitas dan konservasi. Mahasiswa aktif bertanya mengenai sistem monitoring lingkungan dan strategi mitigasi dampak.

Kegiatan dilanjutkan dengan tur ke fasilitas utama, termasuk area tambang, pabrik pengolahan bijih, dan fasilitas pengelolaan limbah. Seluruh proses ditunjukkan dengan transparansi tinggi, memperlihatkan penerapan standar keselamatan dan pengelolaan lingkungan yang ketat. Mahasiswa mencatat berbagai metode teknis yang relevan dengan studi mereka, mulai dari rekayasa tailing hingga pemulihan lahan pascatambang.

Selain aspek teknis, PT Agincourt Resources juga menampilkan program pengembangan masyarakat yang telah dijalankan, seperti pelatihan keterampilan, pemberdayaan ekonomi lokal, serta dukungan terhadap pendidikan dan kesehatan. Prof. Rahmawaty menyebut bahwa pendekatan ini mencerminkan model pembangunan berkelanjutan yang inklusif.

“Mahasiswa perlu melihat bahwa industri bisa menjadi mitra dalam membangun kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Kunjungan ini menjadi refleksi penting bagi mahasiswa PSL USU dalam memahami kompleksitas pengelolaan sumber daya alam. Mereka tidak hanya belajar dari sisi teknis, tetapi juga dari perspektif sosial dan kebijakan. Prof. Rahmawaty berharap kegiatan semacam ini dapat terus dilakukan sebagai bagian dari kurikulum yang mengedepankan kolaborasi, inovasi, dan keberlanjutan. (TESTI PRISCILLA/j)