PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Sebanyak 39.000 petani sawit swadaya kini menjadi bagian dari Yayasan Fortasbi Indonesia. Mereka tersebar di berbagai wilayah dan aktif dalam penerapan praktik sawit berkelanjutan.

Head of Secretariat Fortasbi, Rukaiyah Rafik, menyebutkan bahwa para petani tersebut tergabung dalam 60 asosiasi dan koperasi yang semuanya telah bersertifikat RSPO.

“Kami tidak membuka keanggotaan bagi petani yang belum bersertifikat. Ini agar standar keberlanjutan tetap terjaga,” kata Rukaiyah pada Kamis, 30 Oktober 2025.

Rukaiyah menuturkan bahwa sertifikasi RSPO menjadi langkah penting untuk membuktikan komitmen petani terhadap prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola yang baik.

Melalui Fortasbi, para petani mendapat pendampingan teknis, pelatihan, serta dukungan administratif agar terus mempertahankan sertifikasi tersebut.

Ia menambahkan bahwa skema ini menjadi bukti bahwa petani kecil pun mampu berkontribusi dalam praktik sawit berkelanjutan.

“Kami ingin menunjukkan bahwa petani swadaya bisa profesional, terorganisir, dan berdaya saing,” ujarnya.

Fortasbi, kata Rukaiyah, tidak hanya fokus pada aspek sertifikasi tetapi juga penguatan kelembagaan koperasi dan asosiasi petani. Hal itu agar mereka mandiri dalam mengelola kegiatan ekonomi dan lingkungan.

“Dengan penguatan ini, kami berharap keberlanjutan bukan hanya slogan, tapi benar-benar menjadi budaya kerja petani sawit swadaya di Indonesia,” tuturnya lagi.(TESTI PRISCILLA)