BORNEONEWS, Palangka Raya - Kepala OJK Kalimantan Tengah, Primandanu Febriyan Aziz, menyebutkan kinerja Bank Perekonomian Rakyat atau BPR dan BPRS di wilayahnya mengalami tekanan pada triwulan III 2025. Aset kedua jenis bank itu turun 14,23 persen menjadi Rp1,95 triliun, sementara DPK menurun 42,54 persen menjadi Rp761,54 miliar.
Kredit yang disalurkan juga menurun 26,97 persen menjadi Rp1,31 triliun dengan rasio kredit macet atau NPL meningkat ke 6,91 persen. Meski begitu, penurunan ini lebih disebabkan perubahan strategi bisnis di salah satu BPR besar di Kalteng.
“Perubahan arah bisnis itu tidak berdampak sistemik terhadap industri BPR secara keseluruhan,” jelas Primandanu pada Kamis, 30 Oktober 2025.
Ia menekankan bahwa secara umum kondisi keuangan BPR di Kalteng masih dalam kategori sehat.
OJK Kalteng juga terus melakukan pembinaan terhadap industri BPR agar tetap adaptif terhadap perubahan ekonomi dan digitalisasi layanan.
“Kami dorong BPR memperkuat tata kelola dan efisiensi agar mampu bersaing di era digital,” ujarnya.
Menurutnya, peran BPR tetap penting untuk melayani sektor mikro dan pelaku UMKM di daerah.
“BPR adalah tulang punggung inklusi keuangan daerah, jadi kami pastikan mereka tetap tumbuh berkelanjutan,” tambahnya.
OJK akan terus memperkuat fungsi pengawasan dan mendorong kolaborasi antar-BPR agar dapat menjaga likuiditas dan daya saingnya di tengah tantangan ekonomi global. (TESTI PRISCILLA/j)









