BORNEONEWS, Sampit – Aksi sekelompok warga menambal Jalan Tjilik Riwut Km 38 yang berada di Desa Jemaras, Kecamatan Cempaga, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) secara swadaya viral di media sosial. Dalam sejumlah video yang beredar di Instagram dan Facebook, terlihat beberapa warga mengaduk semen dan menimbun lubang jalan menggunakan alat sederhana.
Salah seorang dalam video itu mengatakan aksi tersebut dilakukan demi mencegah kecelakaan lalu lintas di jalan provinsi yang rusak parah itu.
“Dalam rangka membantu sesama agar tidak ada musibah yang diinginkan. Bersama relawan IRM kami melakukan swadaya penimbunan jalan yang berlubang. Karena kalau harus menunggu dari pihak provinsi, korban bisa bertambah,” ujarnya dalam salah satu potongan video.
Menariknya, dalam potongan video lain terlihat mobil ambulans digunakan untuk mengangkut material seperti pasir dan semen. Dalam narasi video dijelaskan bahwa penggunaan ambulans itu bertujuan kemanusiaan karena digunakan untuk mencegah terjadinya korban kecelakaan.
Salah satu warga Desa Jemaras, Tommy Aldianto, yang terlibat aksi tersebut, mengatakan kegiatan itu murni swadaya ia lakukan bersama Organisasi Ikatan Remaja Masjid (IRM) Jemaras.
“Kami berinisiatif menambal lubang jalan di KM 38 karena sudah lima kali terjadi kecelakaan dalam sebulan. Rata-rata kecelakaan tunggal karena dari jauh jalan terlihat rata, padahal ada lubang berderet yang dalam,” kata Tommy saat dikonfirmasi, Sabtu, 1 November 2025.
Ia menambahkan, sebanyak 10 lubang jalan berhasil mereka tambal secara gotong royong dari arah RT 1 menuju Kecamatan, menggunakan material hasil sumbangan warga seperti pasir, koral, dan semen.
“Rata-rata korban kecelakaan bukan warga sekitar, mereka berkendara menggunakan roda dua dari arah Palangka Raya. Kami khawatir karena jalan ini juga akses utama anak sekolah menuju SMA di Desa Sungai Paring serta SMP dan SMK di Cempaka sehingga berinisiatif menambal lubang jalan,” ujarnya.
Tommy menjelaskan, kondisi jalan rusak tersebut telah berlangsung lebih dari sebulan. Namun warga kesulitan melapor karena tidak memiliki akses mengadu atas kerusakan jalan lintas provinsi tersebut.
“Kami sudah sering mengeluhkan di media sosial. Semoga dengan aksi ini pemerintah bisa memberi perhatian serius,” tambahnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan, ambulans untuk mengangkut material tersebut milik IRM Jemaras. Hal itu terpaksa dilakukan karena kendaraan pick-up tidak tersedia, sedangkan jika harus menyewa pick-up memerlukan biaya besar.
Penggunaan mobil ambulans tersebut juga bertujuan untuk kemanusiaan, mengurangi kecelakaan agar tidak ada lagi korban yang harus diangkut menggunakan ambulans.
Sebagai informasi, IRM Jemaras merupakan organisasi yang bergerak dalam bidang sosial. Mereka kerap membantu korban banjir dan kebakaran. (DEWI PATMALASARI/j)









