PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah akan kembali menggelar agenda tahunan bergengsi, Festival Tunas Bahasa Ibu atau FTBI Tahun 2025. Festival ini dijadwalkan berlangsung pada 3–5 November 2025 di Hotel Bahalap, Palangka Raya, dengan menghadirkan semangat pelestarian bahasa daerah di Bumi Tambun Bungai. Kegiatan ini rencananya akan dibuka secara resmi oleh Gubernur Kalimantan Tengah, Agustiar Sabran, yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Adat Dayak atau DAD Kalteng.

Kepala Balai Bahasa Kalteng, Dr Sukardi Gau, menjelaskan bahwa FTBI merupakan bagian dari tindak lanjut program Revitalisasi Bahasa Daerah atau RBD yang dilaksanakan oleh Badan dan Balai Bahasa di seluruh Indonesia setiap tahunnya.

“Festival ini adalah hasil nyata dari proses panjang revitalisasi yang kami lakukan sejak awal tahun. Tahun 2025 ini menjadi penyelenggaraan yang keempat kalinya,” kata Sukardi pada Sabtu, 1 November 2025.

Menurut Sukardi, kegiatan FTBI tidak hanya menjadi ajang lomba bagi para pelajar, tetapi juga menjadi sarana menghidupkan kembali bahasa daerah melalui kreativitas generasi muda. Sebanyak 300 peserta didik tingkat SD dan SMP dari 13 kabupaten dan 1 kota se-Kalimantan Tengah akan berpartisipasi dalam berbagai cabang lomba, seperti menulis cerpen, menulis puisi, pidato, komedi tunggal, mendongeng, dan sastra lisan.

Yang menarik, seluruh cabang lomba disampaikan dalam bahasa daerah asli Kalimantan Tengah, antara lain Bahasa Dayak Ngaju, Bakumpai, Maanyan, Melayu Kotawaringin, serta Katingan, Tawoyan, dan Ut Danum yang tampil dalam kategori ekshibisi.

“Selain menjadi ajang prestasi, FTBI juga menjadi ruang apresiasi bagi keberagaman bahasa daerah di Kalimantan Tengah,” tambah Sukardi.

Ia juga menegaskan bahwa keberlangsungan FTBI menjadi bukti konkret komitmen pemerintah daerah dalam menjaga warisan linguistik lokal.

“Kami sangat mengapresiasi kabupaten dan kota yang aktif terlibat. Hal ini menunjukkan bahwa kepedulian terhadap bahasa daerah terus tumbuh di tengah masyarakat,” ujarnya.

Program Revitalisasi Bahasa Daerah sendiri telah dimulai sejak awal tahun melalui beberapa tahapan, mulai dari pelatihan guru master, pengimbasan kepada guru kelas, hingga pembinaan langsung kepada siswa. Dari proses inilah lahir peserta-peserta terbaik yang kini melangkah ke FTBI tingkat provinsi, membawa semangat menjaga dan mencintai bahasa ibu mereka sebagai jati diri budaya Kalimantan Tengah. (TESTI PRISCILLA/j)