BORNEONEWS, Banjarmasin - Di tengah kekayaan khazanah budaya Indonesia, masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan menyimpan sebuah kepercayaan unik yang diwariskan turun-temurun, yakni "kebaratan nama" atau "kabarat ngaran".
Ini adalah sebuah konsep di mana nama yang diberikan kepada seorang anak diyakini memiliki "beban" atau "bobot" tersendiri. Jika nama tersebut dianggap terlalu berat, dipercaya dapat memengaruhi kehidupan sang anak secara negatif, baik dari sisi perilaku maupun kesehatan.
Informasi dihimpun dari data Kesultanan Banjar, fenomena ini biasanya mulai terdeteksi ketika seorang anak menunjukkan perilaku yang sulit diatur. Menurut kepercayaan setempat, anak yang terlampau nakal, sering bertingkah, atau sulit ditenangkan seringkali diyakini sedang mengalami 'kebaratan nama'. Nama tersebut dianggap tidak seimbang dengan karakter sang anak, sehingga menimbulkan ketidakharmonisan yang termanifestasi dalam perilaku sehari-hari.
Tak hanya berhenti pada masalah perilaku, dampak dari nama yang "terlalu berat" juga diyakini berpengaruh pada kondisi fisik. Dalam beberapa kasus, seorang anak yang sering jatuh sakit tanpa penyebab medis yang jelas juga dapat dikaitkan dengan 'kebaratan nama'. Masyarakat Banjar yang meyakini hal ini berasumsi bahwa tubuh fisik sang anak tidak sanggup "menyangga" atau menanggung beban dari nama yang disandangnya.
Akar dari kepercayaan ini terletak pada sebuah praktik perhitungan tradisional yang dikenal sebagai 'babilangan nama'. Seperti yang dijelaskan oleh Budayawan Kesultanan Banjar, Ersa Fahriyanur, 'babilangan nama' adalah sebuah metode perhitungan aksara atau huruf dalam nama seseorang. Perhitungan inilah yang dipercaya dapat menentukan apakah sebuah nama akan membawa dampak positif atau negatif bagi pemiliknya.
Lantas, apa solusi yang ditempuh ketika sebuah nama terindikasi "terlalu berat"?
Secara tradisi, masyarakat Banjar akan mencari bantuan kepada figur yang dihormati dan dianggap memiliki ilmu untuk itu. Mereka biasanya akan mendatangi seorang alim atau tuan guru (ulama atau guru agama) yang memahami seluk-beluk perhitungan aksara nama.
"Biasanya, jika hasil perhitungan nama kurang baik, orang tua akan meminta tuan guru untuk menasmiyahi ulang anak mereka. Nama baru yang diberikan akan disesuaikan dengan perhitungan aksara yang lebih baik, sehingga diharapkan membawa keberkahan dan keseimbangan bagi anak tersebut," jelas Ersa.
Jika hasil perhitungan menunjukkan adanya "ketidakseimbangan" atau bobot yang terlalu tinggi, orang tua biasanya akan meminta sang guru untuk "meringankan" nama anak mereka. Proses ini bisa berupa penambahan atau penyesuaian nama agar lebih seimbang.
Meskipun zaman telah modern, kepercayaan akan 'babilangan nama' ini masih dipegang oleh sebagian masyarakat Banjar. Walaupun tidak semua orang mempercayainya secara mutlak, tradisi ini tetap hidup sebagai bagian dari upaya menjaga keseimbangan hidup. Bagi mereka yang meyakini, perhitungan nama adalah salah satu ikhtiar penting untuk mengharapkan keberkahan dan keselarasan dalam kehidupan seorang anak sejak ia kecil. (SABRIANOOR/H)









