BORNEONEWS, Tamiang Layang – SD Negeri 2 Pasar Panas, Kecamatan Benua Lima dipercaya mewakili Barito Timur pada ajang Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) Tingkat Provinsi Kalimantan Tengah yang digelar Palangka Raya 3–5 November 2025.
Guru Pendamping SD Negeri 2 Pasar Panas, Helfriati, menyampaikan rasa bangga dan syukur atas keikutsertaan sekolahnya dalam ajang bergengsi tersebut. Tahun ini, mereka berpartisipasi dalam cabang Tumet Leut Bahasa Maanyan, salah satu bentuk sastra lisan khas suku Dayak Maanyan yang berisi syair atau pantun berirama yang disampaikan dengan intonasi khas, sering kali diiringi gerak tubuh dan ekspresi yang menggambarkan pesan moral, petuah, maupun kisah kehidupan masyarakat setempat.
“Tumet Leut bukan sekadar lomba berpantun, tetapi merupakan warisan budaya yang mengajarkan nilai kebijaksanaan, kesantunan berbahasa, serta rasa hormat kepada leluhur. Kami ingin anak-anak memahami dan mencintai akar budaya mereka sendiri,” jelasnya dengan penuh semangat.
Helfriati juga menyampaikan ucapan terima kasih atas dukungan penuh Plt Kepala Dinas Pendidikan Barito Timur, Bunyamin, yang telah memberikan perhatian besar terhadap pelestarian bahasa dan budaya daerah melalui kegiatan seperti FTBI.
“Kami sangat bersyukur atas dukungan dan arahan dari Bapak Bunyamin. Beliau selalu memberi semangat agar sekolah-sekolah di Barito Timur aktif berpartisipasi dalam kegiatan yang memperkuat karakter dan kebanggaan budaya lokal,” ujarnya.
FTBI adalah ajang yang bertujuan menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap bahasa daerah serta mendorong pelestarian keberagaman linguistik di Indonesia. Di tingkat Kalimantan Tengah, FTBI diikuti oleh pelajar dari berbagai kabupaten dan kota yang berkompetisi dalam kategori seperti pidato, baca puisi, mendongeng, dan tumet leut dalam bahasa daerah masing-masing.
Menurut Helfriati, keikutsertaan SD Negeri 2 Pasar Panas bukan semata mengejar juara, tetapi sebagai wujud komitmen menjaga identitas budaya di tengah arus modernisasi.
“Kami ingin anak-anak tidak hanya pandai berbahasa Indonesia, tetapi juga bangga menggunakan bahasa Maanyan, karena di sanalah jati diri mereka berasal,” tambahnya.
Helfriati berharap partisipasi sekolahnya dapat menjadi inspirasi bagi satuan pendidikan lain di Barito Timur untuk ikut berkontribusi melestarikan bahasa daerah.
“Apapun hasilnya nanti, kami sudah bangga karena bisa membawa nama Barito Timur dan memperkenalkan budaya Maanyan di tingkat provinsi,” pungkasnya. (AGUSTINUS BOLE MALO/H)









