PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Pertumbuhan industri emulsifier dunia yang mencapai nilai pasar hingga US$8–11 miliar pada 2025, dengan proyeksi peningkatan signifikan hingga US$20 miliar pada 2030, membuka peluang besar bagi produk bioemulsifier berbasis kelapa sawit Indonesia.

Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan atau BPDP, Eddy Abdurrahman, mengatakan bahwa permintaan global terhadap bahan pengemulsi ramah lingkungan terus meningkat seiring dengan perubahan regulasi dan preferensi konsumen dunia terhadap produk berkelanjutan.

“Indonesia harus mampu menangkap peluang ini dengan memperkuat riset, inovasi, dan hilirisasi sawit ke arah produk bernilai tambah tinggi seperti bioemulsifier,” kata Eddy pada Selasa, 4 November 2025.

Menurut Eddy, hasil kajian Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI) tahun 2025 menunjukkan bahwa bioemulsifier sawit memiliki potensi pertumbuhan yang lebih cepat dan berkelanjutan dibanding emulsifier sintetis. Produk turunan sawit tersebut dinilai mampu menjadi substitusi ideal karena bersifat biodegradable, renewable, serta mendukung komitmen global terhadap ekonomi hijau.

“Dengan dukungan teknologi dan kebijakan yang tepat, bioemulsifier sawit dapat memperluas peran Indonesia dalam rantai pasok industri kimia hijau dunia,” tambahnya.

Faktor utama yang mendorong peningkatan pasar bioemulsifier sawit global, lanjut Eddy, antara lain pertumbuhan pusat ekonomi baru, regulasi pro-lingkungan di negara maju, urbanisasi global, perubahan gaya hidup sehat masyarakat, serta meningkatnya kesadaran konsumen terhadap atribut produk berkelanjutan. Kawasan Asia seperti ASEAN, China, dan India diprediksi menjadi pusat ekonomi dunia pada 2050, dengan populasi mencapai 55 persen dari total penduduk global.

“Kawasan ini akan menjadi pasar potensial bagi berbagai produk berbasis bio, termasuk bioemulsifier sawit yang banyak digunakan di industri pangan, kosmetik, dan farmasi,” jelasnya.

Selain itu, Eddy menyoroti bahwa kebijakan lingkungan ketat di negara maju, khususnya di Uni Eropa, semakin mendorong penggunaan bahan ramah lingkungan dalam berbagai produk industri. Regulasi seperti pembatasan mikroplastik dan biaya eksternalitas untuk limbah industri telah menciptakan peluang bagi substitusi bahan sintetis dengan bahan alami.

“Kondisi ini justru menjadi momentum bagi Indonesia untuk memposisikan sawit sebagai solusi global atas kebutuhan bahan baku ramah lingkungan,” katanya.

Dari sisi sosial-ekonomi, peningkatan populasi masyarakat urban dan preferensi terhadap gaya hidup sehat juga memperkuat permintaan produk berbasis bioemulsifier. Eddy menyebut, industri pangan olahan, kosmetik, dan kesehatan kini semakin membutuhkan bahan pengemulsi alami yang aman, halal, dan bebas bahan kimia berbahaya.

“Tren clean-label dan plant-based bukan lagi gaya hidup, melainkan standar baru industri global. Bioemulsifier sawit menjadi jawaban atas kebutuhan tersebut,” ujarnya menegaskan.

Eddy Abdurrahman menutup dengan menekankan bahwa peluang besar ini harus direspons melalui kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, lembaga riset, dan pelaku industri.

“BPDP berkomitmen mendukung riset inovatif dan pendanaan hilirisasi untuk memperkuat daya saing sawit Indonesia di kancah global. Dengan strategi yang tepat, bioemulsifier sawit tidak hanya memperluas pasar ekspor, tetapi juga memperkokoh posisi Indonesia sebagai pemimpin dalam industri kimia hijau berkelanjutan,” pungkasnya. (TESTI PRISCILLA/H)