PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Dua perusahaan perkebunan sawit di Kalimantan Tengah, PT Sepalar Yasa Kartika atau SYK dan PT Borneo Sawit Gemilang atau BSG, kembali menegaskan komitmennya dalam upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan melalui Program Masyarakat Peduli Api atau MPA.

Program ini menjadi bagian dari inisiatif Desa Bebas Api yang berfokus pada peningkatan kesadaran masyarakat terhadap bahaya dan dampak negatif pembakaran lahan di sekitar wilayah operasional perusahaan.

Program MPA dijalankan melalui tiga tahapan utama, dimulai dari pelatihan dan simulasi kebakaran bagi masyarakat di desa binaan. Tujuannya untuk membekali warga dengan keterampilan teknis dalam menghadapi potensi kebakaran serta memperkuat kesiapsiagaan desa.

Sebagai wujud konkret, pada 2–3 September 2025, PT SYK menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan Desa Pantik, Kabupaten Pulang Pisau.

Kesepakatan ini menjadi tonggak kerja sama resmi antara perusahaan dan pemerintah desa dalam mencegah serta menanggulangi Karhutlah secara berkelanjutan.

Sementara itu, PT BSG memperkuat kemitraan yang telah dijalin sejak 2023 bersama Desa Talio Hulu. Bentuk nyata kerja sama tersebut diwujudkan melalui bantuan sarana dan prasarana pemadam kebakaran atau Damkar untuk mendukung kesiapsiagaan masyarakat menghadapi musim kemarau.

Bantuan ini diharapkan dapat memperkuat kapasitas desa dalam melakukan pencegahan dini maupun penanggulangan kebakaran secara cepat dan efektif.

Manager Sustainability PT SYK, Joko Triyanto, menegaskan bahwa program MPA bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi langkah konkret mendukung kebijakan pemerintah dalam pengendalian Karhutlah.

“Penandatanganan MoU, pelatihan simulasi kebakaran, serta penyerahan bantuan peralatan Damkar menjadi bukti nyata komitmen perusahaan. Kepedulian dan kesadaran masyarakat bersama perusahaan harus terus tumbuh dan berkembang agar program ini dapat berjalan berkelanjutan,” ujarnya dalam rilis pada Selasa, 4 November 2025.

Apresiasi juga datang dari Kepala Desa Pantik, Dwi Cahyono, yang menilai program ini membawa dampak positif bagi masyarakat.

“Selama ini masih banyak warga yang menganggap membakar lahan adalah hal biasa. Melalui pelatihan dan bantuan sarana, kami jadi lebih memahami bahaya kebakaran dan cara penanganannya. Program ini membantu kami lebih siap siaga serta menumbuhkan kesadaran warga agar tidak lagi melakukan pembakaran lahan,” katanya.

Senada dengan itu, perwakilan Desa Talio Hulu, Joko Kristiono, menuturkan bahwa dukungan dari PT BSG sangat dirasakan manfaatnya.

“Peralatan pemadam yang diberikan benar-benar bermanfaat, apalagi saat musim kemarau. Kami merasa diperhatikan dan dilibatkan dalam menjaga lingkungan. Semoga kerja sama ini terus berlanjut agar desa kami semakin tangguh menghadapi Karhutlah,” ujarnya.

Melalui program Masyarakat Peduli Api, kedua perusahaan berharap kolaborasi yang terjalin dapat menjadi fondasi penting dalam menjaga kelestarian lingkungan dari ancaman kebakaran.

Upaya ini tidak hanya diharapkan mampu menekan risiko Karhutlah, tetapi juga memperkuat ketahanan desa dalam menjaga keberlanjutan ekosistem, sosial, dan ekonomi masyarakat di Kalimantan Tengah.(TESTI PRISCILLA)