BORNEONEWS, Kuala Kapuas - Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kabupaten Kapuas merilis data inflasi untuk periode Oktober 2025. Berdasarkan laporan tersebut, inflasi di wilayah Kapuas turut dipengaruhi oleh kenaikan harga pada beberapa komoditas bahan pangan dan nonpangan.
Data TPID menunjukkan bahwa ikan gabus menjadi penyumbang inflasi bulanan tertinggi di Kabupaten Kapuas dengan andil sebesar 0,23%. Selain ikan gabus, beberapa komoditas lain yang turut memberikan tekanan inflasi adalah telur ayam ras (0,10%), beras (0,10%), emas perhiasan (0,08%), serta semangka (0,07%).
Menghadapi kenaikan harga tersebut, Pemerintah Kabupaten Kapuas melalui TPID telah melaksanakan berbagai langkah konkret untuk menjaga stabilitas harga.
Upaya ini difokuskan pada pemantauan harga dan intervensi pasar untuk membantu daya beli masyarakat.
Di antara langkah yang dilakukan adalah pemantauan perkembangan harga komoditas pangan harian. Pemantauan ini tidak hanya dilakukan di ibu kota kabupaten, tetapi juga di 17 kecamatan melalui petugas enumerator. Hasilnya kemudian dipublikasikan secara harian melalui media sosial Dinas Dagperinkop.
Selain pemantauan, TPID Kapuas juga fokus pada upaya jangka panjang dengan mendorong pengembangan komoditas hortikultura, khususnya aneka cabai dan varietas unggul padi, untuk menjaga ketersediaan pasokan.
"Sebagai intervensi langsung, TPID Kapuas gencar melaksanakan operasi pasar murah di sejumlah kecamatan sepanjang Oktober 2025," tulis TPID Kapuas, Selasa, 4 November 2025.
Kegiatan pertama digelar di Kecamatan Selat pada 6 Oktober dengan menyalurkan 650 paket sembako. Paket berisi beras premium, gula pasir, dan minyak goreng ini dijual dengan harga tebus hanya Rp20.000 per paket. Kegiatan serupa juga sukses digelar di Kecamatan Kapuas Hilir, Kapuas Timur, Kapuas Murung, dan Dadahup, dengan total 3.200 paket disalurkan untuk masyarakat kurang mampu. (SABRIANOOR/j)









