PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Badan Pusat Statistik atau BPS Provinsi Kalimantan Tengah mencatat, luas panen padi di daerah ini pada 2025 mengalami penurunan cukup signifikan.

Berdasarkan Angka Sementara (ASEM), luas panen padi diperkirakan sekitar 96,94 ribu hektare, turun sebesar 14,07 ribu hektare atau 12,68 persen dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 111,02 ribu hektare.

Kepala BPS Kalimantan Tengah, Agnes Widiastuti menyampaikan bahwa penurunan luas panen ini turut berdampak pada menurunnya volume produksi padi secara keseluruhan.

“Produksi padi dalam bentuk Gabah Kering Giling (GKG) pada tahun 2025 diperkirakan mencapai 329,39 ribu ton, turun sekitar 36,76 ribu ton atau 10,04 persen dibandingkan tahun sebelumnya,” jelasnya pada Rabu, 5 November 2025.

Sejalan dengan itu, produksi beras untuk konsumsi pangan penduduk Kalimantan Tengah pada tahun 2025 juga diperkirakan menurun.

Menurut Agnes, produksi beras tahun ini diperkirakan mencapai 195,66 ribu ton, turun 21,83 ribu ton atau 10,04 persen dibandingkan produksi tahun 2024. Penurunan ini menunjukkan adanya tantangan dalam menjaga stabilitas produksi pangan di daerah.

Agnes menjelaskan bahwa angka luas panen dan produksi padi tahun 2025 ini masih bersifat sementara atau angka potensi, terutama untuk periode Oktober–Desember 2025. Artinya, realisasi produksi padi masih dapat berubah tergantung pada kondisi pertanaman padi di lapangan.

“Kondisi iklim, curah hujan, serta pola tanam petani pada triwulan terakhir tahun ini akan sangat menentukan hasil akhir produksi,” ujarnya.

Dia menambahkan bahwa BPS terus memantau perkembangan data pertanian melalui kerja sama dengan instansi teknis terkait dan pemerintah daerah.

Pemantauan ini penting agar perencanaan kebijakan pangan dapat disesuaikan dengan kondisi faktual di lapangan.

“Diharapkan data ASEM ini dapat menjadi acuan awal bagi pemerintah dalam merumuskan langkah antisipatif, terutama untuk menjaga ketersediaan dan stabilitas pangan di Kalimantan Tengah,” tutur Agnes. (TESTI PRISCILLA)