BORNEONEWS, Palangka Raya - Di sela gelaran RSPO Annual Roundtable Conference on Sustainable Palm Oil atau RT2025 di Kuala Lumpur, kabar penting datang dari PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk atau SSMS. Perusahaan yang berbasis di Kalimantan Tengah itu secara resmi menunjuk Henky Satrio Wibowo sebagai Direktur Sustainability atau Direktur Keberlanjutan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa atau RUPSLB serta Rapat Umum Pemegang Saham Independen yang digelar di Financial Hall, Jakarta pada Kamis, 30 Oktober 2025 lalu.
Namun kabar baik tak berhenti di situ. Pada Kamis, 6 November 2025 Henky mengabari bahwa dalam proses General Assembly RSPO yang digelar pada kesempatan yang sama, Henky juga terpilih sebagai anggota Alternate Board of Governor RSPO, mewakili grower (produsen kelapa sawit) Indonesia.
"Per kemarin dalam proses General Assambly, saya ditunjuk menjadi Board of Governor RSPO Alternate mewakili grower Indonesia," kata Henky kepada Borneonews.
Dua amanah besar itu sekaligus menegaskan posisi Henky di dua medan penting di internal korporasi sebagai penggerak transformasi keberlanjutan, dan di kancah internasional sebagai representasi suara industri sawit berkelanjutan dari tanah air.
Henky bukan sosok yang datang tiba-tiba di dunia keberlanjutan, Henky telah lama berkiprah dalam bidang pembangunan berkelanjutan, tanggung jawab sosial, dan advokasi lingkungan.
Setelah menuntaskan studi Magister Manajemen dengan konsentrasi Sustainability and Corporate Social Responsibility di Universitas Trisakti, Jakarta, ia menempuh perjalanan profesional lintas sektor: dari isu masyarakat adat hingga industri kehutanan.
Ia pernah menjabat sebagai Program Manager REDD+ di Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), kemudian Head Sustainability & Stakeholder Relations Manager di Perusahaan sektor industri kehutanan
Tahun 2021 menjadi titik balik penting. Henky bergabung dengan Group CBI/SSMS sebagai Group Head Sustainability Division, lalu naik menjadi Chief Sustainability Officer (CSO), sebelum akhirnya dipercaya memimpin bidang keberlanjutan di level direktur.
“Becoming the world class company” merupakan visi SSMS, terlibat aktif di forum internasional dan juga aktif di RSPO sebagai Lembaga internasional yang memiliki standar keberlanjutan untuk penerapan sawit yang berkelanjutan.
“Sustainability itu bukan pilihan, tapi kewajiban,” ujarnya.
Kalimat sederhana itu menggambarkan filosofi kerjanya bahwa keberlanjutan bukan sekadar jargon, melainkan fondasi moral dan strategis dalam bisnis modern.
Dengan jabatan barunya di SSMS dan posisi di Board of Governor RSPO, Henky kini memikul dua peran strategis.
Sebagai Direktur Sustainability SSMS, ia bertugas memastikan seluruh praktik operasional perusahaan sejalan dengan standar keberlanjutan global: menjaga keseimbangan antara profit, people, dan planet. Ia juga menjadi jembatan antara ambisi bisnis dan tuntutan regulasi internasional, termasuk sertifikasi RSPO, ISPO, serta kebijakan deforestation-free supply chain.
Sementara di RSPO, peran barunya membawa dimensi yang lebih luas. Sebagai wakil Indonesia dari kelompok grower, Henky akan berpartisipasi langsung dalam pengambilan keputusan strategis yang mempengaruhi arah kebijakan industri sawit global termasuk dalam isu-isu penting seperti hak petani kecil, traceability, dan penguatan standar keberlanjutan.
Bagi Indonesia, kehadiran sosok seperti Henky di dewan pengurus RSPO menjadi sinyal kuat bahwa pelaku nasional kini bukan hanya menjadi penerima regulasi, tetapi juga turut menjadi pembentuk arah masa depan industri sawit dunia.
Pengangkatan Henky di dua posisi kunci ini hadir pada momentum yang penting. Industri kelapa sawit tengah berada di persimpangan: antara tekanan regulasi global seperti EU Deforestation Regulation (EUDR), meningkatnya ekspektasi publik, serta kebutuhan untuk menjaga daya saing dan reputasi di pasar internasional.
SSMS, sebagai salah satu perusahaan sawit terkemuka di Indonesia, menunjukkan sikap adaptif dengan memperkuat fondasi keberlanjutan melalui kepemimpinan yang berpengalaman. Penunjukan Henky bukan sekadar langkah strategis korporat, tetapi juga bagian dari narasi lebih besar: bahwa sawit Indonesia siap berubah, berbenah, dan bersuara di forum global.
“Keberlanjutan harus dilihat sebagai jalan bersama, bukan beban. Ketika petani kecil, perusahaan, dan pemerintah berjalan seirama, hasilnya bukan hanya produktivitas, tetapi juga kepercayaan dunia," ujar Henky.
Henky menegaskan, keberlanjutan tidak boleh lagi dilihat sebagai tren sesaat. Ia memandangnya sebagai filosofi hidup dan strategi bisnis jangka panjang. Visi ini ia bawa ke dalam struktur perusahaan dan kini juga ke ruang-ruang kebijakan internasional.
Baginya, transformasi sejati tidak bisa dilakukan sendirian. Dibutuhkan kolaborasi lintas pihak mulai dari komunitas lokal, petani kecil, mitra bisnis, lembaga sertifikasi, hingga konsumen akhir.
“Perubahan itu tidak datang dari kebijakan di atas kertas, tapi dari kemauan untuk berjalan bersama,” katanya.
Dua amanah yang kini diemban Henky di SSMS dan RSPO mempertegas kiprahnya sebagai salah satu figur penting dalam peta keberlanjutan industri sawit Indonesia.
Di satu sisi, ia menjadi motor perubahan internal perusahaan; di sisi lain, ia menjadi jembatan diplomasi keberlanjutan di tingkat global. Kombinasi yang langka, namun krusial, di era ketika dunia menuntut keseimbangan antara bisnis dan keberlanjutan.
Dengan integritas dan visi yang kuat, Henky Satrio Wibowo kini berada di garis depan transformasi mengawal sawit Indonesia menuju masa depan yang lebih hijau, inklusif, dan bertanggung jawab.(TESTI PRISCILLA/y)









