PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Badan Pusat Statistik atau BPS Provinsi Kalimantan Tengah mencatat adanya peningkatan luas panen jagung pada tahun 2025, namun di sisi lain produksi justru mengalami penurunan. Berdasarkan hasil Angka Sementara atau ASEM 2025, luas panen jagung pipilan di provinsi ini diperkirakan mencapai 9,51 ribu hektare, naik 0,96 ribu hektare atau 11,21 persen dibandingkan tahun 2024 yang sebesar 8,56 ribu hektare.

Kepala BPS Kalimantan Tengah, Agnes Widiastuti, menjelaskan bahwa peningkatan luas panen ini menunjukkan adanya upaya petani dan pemerintah daerah dalam memperluas area tanam komoditas pangan strategis tersebut. Namun demikian, peningkatan luas panen belum diikuti oleh kenaikan produksi yang sepadan.

“Secara luas lahan memang bertambah, tetapi faktor produktivitas per hektare mengalami penurunan,” kata Agnes pada Kamis, 6 November 2025.

Agnes mengungkapkan, produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 14 persen pada tahun 2025 justru menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Total produksi diperkirakan hanya mencapai 41,37 ribu ton, turun sebanyak 3,27 ribu ton atau 7,33 persen dibandingkan 2024 yang mencapai 44,64 ribu ton.

“Ini menunjukkan adanya penurunan hasil panen rata-rata per hektare,” jelasnya.

Menurutnya, penurunan produktivitas dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain kondisi cuaca yang kurang mendukung, ketersediaan air yang terbatas, serta serangan hama dan penyakit tanaman di beberapa sentra produksi jagung. BPS menilai, faktor-faktor tersebut perlu menjadi perhatian dalam upaya menjaga stabilitas produksi pangan daerah.

Lebih lanjut, Agnes menekankan pentingnya peningkatan efisiensi budidaya dan penerapan teknologi pertanian yang lebih baik untuk mendukung produktivitas jagung di Kalimantan Tengah.

“Dengan teknologi yang tepat, seperti penggunaan benih unggul dan sistem irigasi yang efisien, kita dapat meningkatkan hasil tanpa harus terus memperluas lahan,” ujarnya.

Ia menambahkan, jagung merupakan salah satu komoditas penting bagi ketahanan pangan dan pakan ternak di daerah. Karena itu, kolaborasi antara pemerintah, petani, dan sektor swasta menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan produksi jagung di Kalimantan Tengah, agar peningkatan luas tanam dapat sejalan dengan peningkatan produktivitas di masa mendatang. (TESTI PRISCILLA/j)