BORNEONEWS, Palangka Raya - Melalui program Desa Mandiri Peduli Gambut atau DMPG, masyarakat desa bersama PT Menteng Kencana Mas atau MKM akan melaksanakan serangkaian kegiatan pemulihan ekosistem gambut yang terintegrasi dan berkelanjutan. Kegiatan ini mencakup pembasahan gambut (program R1) melalui pembangunan tabat dan sumber air di lahan gambut, penanaman vegetasi lokal (program R2), penguatan kelembagaan masyarakat peduli gambut, serta revitalisasi ekonomi berbasis pengelolaan lahan berkelanjutan (program R3).
Langkah-langkah tersebut dirancang agar masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga pelaku utama dalam upaya pemulihan ekosistem gambut. Pemerintah desa menyambut positif kehadiran program ini yang dinilai mampu menjawab tantangan lingkungan sekaligus mendorong kesejahteraan warga.
“Kami sangat senang akhirnya bisa ikut terlibat dalam program pemulihan gambut ini. Harapannya, kegiatan ini tidak hanya menjaga lingkungan, tapi juga meningkatkan kesejahteraan warga. Dengan adanya pembasahan dan penanaman di area kebun, kami berharap tidak ada lagi kebakaran di handil-handil warga,” ujar salah satu kepala desa yang hadir dalam forum tersebut.
Forum kolaborasi yang difasilitasi PT MKM ini juga dihadiri oleh para kepala desa, kelompok Masyarakat Peduli Tabat (MPT), serta warga pemilik kebun di area handil-handil. Mereka berdiskusi aktif membahas strategi teknis pemulihan gambut dan langkah-langkah mitigasi kebakaran yang berbasis partisipasi masyarakat.
Direktur Sustainability PT SSMS Tbk, Henky Satrio Wibowo, menjelaskan bahwa keterlibatan masyarakat menjadi kunci keberhasilan program ini.
“Pemulihan gambut tidak bisa dilakukan hanya oleh perusahaan. Diperlukan kolaborasi dan kesadaran bersama, terutama masyarakat yang sehari-hari beraktivitas di sekitar lahan gambut. Mereka adalah garda terdepan menjaga agar ekosistem tetap lestari,” kata Henky dalam rilisnya pada Kamis, 6 November 2025.
Henky menambahkan, program ini diharapkan dapat menjadi model kolaborasi yang bisa direplikasi di wilayah lain di Kalimantan Tengah.
“Kami ingin menunjukkan bahwa pendekatan kolaboratif antara perusahaan, pemerintah, dan masyarakat bisa menciptakan solusi nyata bagi pemulihan lingkungan sekaligus meningkatkan taraf hidup warga,” pungkasnya. (TESTI PRISCILLA/y)









