PULANG PISAU –

BORNEONEWS, Pulang Pisau – Lembaga Perempuan Dayak Kabupaten Pulang Pisau bekerja sama dengan Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Tengah melaksanakan Reses perorangan di Aula Kantor Dinas Pertanian Pulang Pisau, Jumat, 7 November 2025.

Kegiatan ini menjadi ajang evaluasi pelaksanaan program pemberdayaan perempuan melalui ketahanan pangan keluarga yang sebelumnya telah digulirkan.

Ketua Lembaga Perempuan Dayak Pulang Pisau, Andriani menyampaikan bahwa reses kali ini merupakan kelanjutan dari reses sebelumnya yang disertai penyerahan bibit cabai kepada kelompok perempuan dan PKK di wilayah Pulang Pisau.

Bibit tersebut telah disalurkan melalui tokoh agama, pemuda, dan ibu rumah tangga, terutama di wilayah Kecamatan Kahayan Hilir.

“Reses ini menindaklanjuti perkembangan penanaman bibit cabai yang telah dibagikan. Kami ingin melihat sejauh mana progresnya, karena ini berkaitan dengan kesiapan kita menyongsong agenda besar penutup tahun nanti,” katanya.

Menurutnya selain menjadi bagian dari program ketahanan pangan keluarga, bibit cabai tersebut juga akan terhubung dengan kegiatan pesta rakyat akhir tahun.

Pada momen tersebut, Lembaga Perempuan Dayak Pulang Pisau akan menggelar pertunjukan kebudayaan dan memperkenalkan tradisi kuliner lokal bernama Panginan Sukup Simpan, yang merupakan sajian khas Dayak dalam satu wadah penuh simbol kebersamaan.

Tak hanya itu, akan digelar pula Lomba Goyang Borneo, sebuah seni gerak tradisional yang memadukan unsur tari dan olahraga yang telah dikembangkan oleh Lembaga Perempuan Dayak Nasional.

Kegiatan ini diharapkan menjadi ruang aktualisasi dan pelestarian budaya Dayak terutama bagi perempuan generasi kini.

“Kita ingin perempuan Dayak mengambil peran sebagai penjaga budaya dan juga motor ketahanan pangan keluarga. Menanam cabai bukan sekadar kegiatan bercocok tanam, tapi bagian dari kemandirian rumah tangga dan identitas masyarakat,” jelasnya.

Ia berharap seluruh perempuan dan ibu rumah tangga di Pulang Pisau dapat terlibat aktif dalam gerakan ini.

“Ketahanan pangan dimulai dari rumah. Perempuan adalah tiangnya. Semoga ini menjadi gerakan yang bukan hanya bermanfaat untuk ekonomi keluarga, tetapi juga memperkuat kebanggaan kita terhadap budaya,” tutupnya.( RETHA)