BORNEONEWS, Nanga Bulik - Kabupaten Lamandau kembali menggelar Festival Babukung. Acara yang dinanti-nantikan ini berlangsung pada 8-10 November 2025. Agenda ini merupakan wujud nyata upaya melestarikan kekayaan budaya dan tradisi masyarakat Dayak Tomun.
Ribuan pengunjung, termasuk peserta dari seluruh kecamatan di Lamandau, memadati alun-alun Kota Nanga Bulik untuk menyaksikan festival yang telah menjadi bagian dari Kalender Event Nasional, Sabtu, 9 November 2025. Meski diguyur hujan, antusiasme penonton untuk menyaksikan tarian babukung yang khas tetap tinggi.
Babukung adalah tarian topeng yang menggunakan berbagai karakter yang disebut Topeng Luha. Penarinya dikenal sebagai Bukung. Topeng Luha memiliki beragam warna dan motif yang menggambarkan kekuatan dan keindahan alam, sering kali berbentuk hewan-hewan yang kuat dan mengagumkan seperti Bukung Nanga, Bukung Bajang, Bukung Hantu, dan Bukung Tingang.
Selain itu, ada juga tarian Bukung yang unik dan indah seperti Bukung Bambo, Bukung Pompadi, dan Bukung Bayan. Setiap jenis Bukung memiliki musik khusus yang disebut Tipa, yang nadanya disesuaikan dengan jenis Bukung dan topeng Luha yang digunakan, menambah kekhasan setiap penampilan.
Bagi masyarakat Dayak Tomun, Babukung bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan tradisi leluhur yang sarat dengan nilai historis dan sakral. Ritual ini biasanya dilakukan saat ada keluarga atau kerabat yang meninggal, sebagai bagian dari prosesi penghiburan dan dukungan spiritual.
Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Lamandau, Hendroplin, menjelaskan bahwa sebelum festival dimulai, dilakukan ritual adat seperti meumpan Bukung (memberi makan Bukung) dan meminta izin agar acara berjalan lancar.
"Tradisi ini mencerminkan penghormatan terhadap leluhur dan kepercayaan spiritual masyarakat setempat," ujarnya.
Dalam tradisi kematian, masyarakat berkumpul untuk bermufakat menentukan hari penguburan. Pada malam-malam berikutnya, acara adat babukung diadakan untuk menghibur keluarga yang berduka dan memberikan sumbangan secara anonim, dengan menggunakan topeng Luha. Para Bukung datang dari desa-desa tetangga atau kelompok masyarakat sebagai wujud gotong royong dan solidaritas.
Pemerintah Kabupaten Lamandau berkomitmen untuk terus melestarikan dan memperkenalkan ritual Babukung kepada dunia melalui festival ini.
Wakil Bupati lamandau Abdul Hamid berharap festival ini dapat menarik lebih banyak wisatawan dan memajukan sektor pariwisata serta ekonomi kreatif daerah.
"Festival Babukung telah menarik cukup banyak wisatawan. Diharapkan melalui Babukung sektor pariwisata dan ekonomi kreatif kita bisa lebih maju lagi," kata hamid. (NATALIA KRISTIN/j)









